Rabu, 14 Mei 2008

Hadits 7

7-" اثنتان لا تقربهما : الشرك بالله و الإضرار بالناس " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 63 ) : لا أصل له . و قد اشتهر بهذا اللفظ و لم أقف عليه في شيء من كتب السنة ، و لعل أصله ما في " الإحياء " للغزالي ( 2 / 185 ) قال صلى الله عليه وسلم : " خصلتان ليس فوقهما شيء من الشر : الشرك بالله و الضر لعباد الله ، و خصلتان ليس فوقهما شيء من البر : الإيمان بالله ، و النفع لعباد الله " . و هو حديث لا يعرف له أصل . قال العراقي في تخريجه : ذكره صاحب الفردوس من حديث علي ، و لم يسنده ولده في مسنده . و لهذا أورده السبكي في الأحاديث التي وقعت في " الإحياء " و لم يجد لها إسنادا ( 4 / 156 ) .

Terjemah:

“Benar-benar jangan mendekati dua perkara: Menyekutukan Allah dan memadlarati orang.”

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/63) berkata: “Tidak ada asal baginya.” Riwayat tersebut sudah dikenal dengan lafal ini, namun aku tidak mengtahuinya sedikitpun dari kitab-kitab sunan, barangkali asalnya yang terdapat dalam “Al-Ihya’” milik Al-Ghazali (2/185). Rasulullah sas. “Ada dua perkara yang tidak ada sesuatupun yang lebih buruk dari keduanya, yaitu menyekutukan Allah dan memadlarati hamba-hamba Allah. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatupun yang lebih baik dari keduanya, yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi hamba-hamba Allah.” Hadits ini tidak diketahui asalnya! Al-‘Iraqi dalam takhrij hadits ini mengatakan: “Penyusun kitab “Al-Firdaus” telah menyebutkannya dari hadits Ali, sedangkan anaknya tidak menyebutkan sanad dalam musnadnya.” Karena itulah As-Subki menyebutkannya dalam hadits-hadits yang ada dalam “Al-Ihya” dan tidak mendapatkan sanadnya (4/156).

Hadits 6

6 - " تنكبوا الغبار فإنه منه تكون النسمة " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 62 ) : لا أعلم له أصلا . أورده ابن الأثير في مادة نسم من " النهاية " و ذكر أنه حديث ! و لا أعرف له أصلا مرفوعا و قد روى ابن سعد في " الطبقات الكبرى " ( 8 / 2 / 198 ) فقال : و قال عبد الله بن صالح المصري عن حرملة بن عمران عمن حدثهم عن ابن سندر مولى النبي صلى الله عليه وسلم قال : أقبل عمرو بن العاص و ابن سندر معهم ، فكان ابن سندر و نفر معه يسيرون بين يدي عمرو بن العاص فأثاروا الغبار ، فجعل عمرو طرف عمامته على أنفه ثم قال : اتقوا الغبار فإنه أوشك شيء دخولا ، و أبعده خروجا ، و إذا وقع على الرئة صار نسمة . و هذا مع كونه موقوفا لا يصح من قبل سنده لأمور : الأول : أن ابن سعد علقه ، فلم يذكر الواسطة بينه و بين عبد الله بن صالح . الثاني : أن ابن صالح فيه ضعف و إن روى له البخاري فقد قال ابن حبان : كان في نفسه صدوقا ، إنما وقعت المناكير في حديثه من قبل جار له ، فسمعت ابن خزيمة يقول : كان بينه و بينه عداوة ، كان يضع الحديث على شيخ ابن صالح ، و يكتبه بخط يشبه خط عبد الله ، و يرميه في داره بين كتبه ، فيتوهم عبد الله أنه خطه فيحدث به ! . الثالث : أن الواسطة بين حرملة و ابن سندر لم تسم فهي مجهولة .

Terjemah:

“Singkirkanlah debu karena dia dapat mengakibatkan penyakit asma”

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/62) mengatakan: “Aku tidak tahu ada asal untuknya.” Ibnu Atsir menuliskannya dalam bab نسم dari “An-Nihayah” dan menyebutkan bahwa ia adalah sebuah hadits, namun aku tidak tahu riwayat ini memiliki asal yang marfu’. Ibnu Sa’id meriwayatkan dalam “At-Thabaqatul Kubra” (8/2/198), dia berkata: “Abdullah bin Shalih Al-Mishri mengatakan dari Harmalah bin Imran dari orang yang menceritakan kepada mereka dari Ibnu Sandr maula Nabi sas. Dia berkata: “Amr bin ‘Ash datang dan Ibnu Sandr juga bersama mereka, maka Ibnu Sandr dan beberapa orang bersamanya berjalan di depan Amr bin Ash dengan menyisakan debu. Kemudian Amr meletakkan ujung sorbannya di hidung lalu berkata: “Berhati-hatilah dengan debu karena dia sesuatu yang paling cepat masuk dan paling sulit keluar, apabila mengenai paru-paru maka bisa mengakibatkan penyakit asma.” Selain karena riwayat ini mauquf dari segi sanadnya juga tidak shahih karena beberapa faktor:

Pertama: Ibnu Sa’id telah menta’liqnya, maka tidak disebutkan perantara antara dia dan Abdullah bin Shalih. Kedua: Ibnu Shalih mempunyai kelemahan, meskipun Al-Bukhari memakai periwayatannya namun Ibnu Hibban telah mengatakan: “Dia seorang yang shaduq. Adanya hadits-hadits munkar dalam haditsnya disebabkan karena tetangganya.” Lalu aku mendengar Ibnu Huzaimah berkata: “Ada permusuhan antara Ibnu Shalih dan tetangganya, dia membikin-bikin hadits dari syaikh Ibnu Shalih dan menuliskannya dengan menyerupai tuliskan Abdullah lalu melemparkannya ke rumah Ibnu Shalih, diantara kitab-kitabnya. Maka Ibnu Shalih mengganggap itu sebagai tulisannya lalu diapun meriwayatkannya!” Ketiga: Perantara antara Harmalah dan Ibnu Sandr tidak disebutkan namanya, berarti dia majhul.

Hadits 5

5 - " ما ترك عبد شيئا لله لا يتركه إلا لله إلا عوضه منه ما هو خير له فى دينه و دنياه ".

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 61 ) : موضوع بهذا اللفظ. و قد سمعته في كلمة ألقاها بعض الأفاضل من إذاعة دمشق في هذا الشهر المبارك شهررمضان ! أخرجه أبو نعيم في " حلية الأولياء " ( 2 / 196 ) و عنه الديلمي ( 4 / 27 ـ الغرائب الملتقطة ) و السلفي في " الطيوريات " ( 200 / 2 ) و ابن عساكر ( 3 / 208 / 2 و 15 / 70 / 1 ) من طريق عبد الله بن سعد الرقي حدثتني والدتي مروة بنت مروان قالت حدثتني والدتي عاتكة بنت بكار عن أبيها قالت : سمعت الزهري يحدث عن سالم بن عبد الله عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : فذكره و قال أبو نعيم عقبه : حديث غريب . و أقول : أن إسناده موضوع ، فإن من دون الزهري لا ذكر لهم في شيء من كتب الحديث غير عبد الله بن سعد الرقي فإنه معروف ، و لكن بالكذب ! قال الحافظ الذهبي في " ميزان الاعتدال في نقد الرجال " و تبعه الحافظ أحمد بن حجر العسقلاني في " لسان الميزان " : كذبه الدارقطني و قال : كان يضع الحديث وهاه أحمد بن عبدان . و فيه علة أخرى و هي جهالة بكار هذا و هو ابن محمد و في ترجمته أورده ابن عساكر و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا . نعم صح الحديث بدون قوله في آخره " في دينه و دنياه " . أخرجه وكيع في " الزهد " ( 2 / 68 / 2 ) و عنه أحمد ( 5 / 363 ) و القضاعي في " مسند الشهاب " ( رقم 1135 ) بلفظ : " إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه " . و سنده صحيح على شرط مسلم . و أخرجه الأصبهاني أيضا في " الترغيب " ( 73 / 1 ) ثم روى له شاهدا من حديث أبي ابن كعب بسند لا بأس به في الشواهد .

Terjemah:

“Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah dan dia tidak meninggalkannya kecuali karena Allah melainkan Allah menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik untuknya dalam agamanya dan dunianya”.

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/61) mengatakan bahwa riwayat tersebut dengan lafal ini maudlu’. Dan sungguh aku mendengarnya dalam kata-kata yang diucapkan oleh sebagian orang-orang yang memiliki keutamaan dari penyiaran di Damaskus di bulan yang diberkahi ini, bulan Ramadlan. Abu Nu’aim telah mengeluarkannya dalam kitab “Hilyatul Auliya’” (2/196) dan Ad-Dailami meriwayatkan dari Abu Nu’aim (4/27-Algharaibul Multaqithah) dan As-Salafi dalam “Ath-Thuyuriyat” (200/2) dan Ibnu Asakir (3/208/2 dan 15/70/1) dari jalan Abdulllah bin Sa’d Ar-Raqi “Ibuku, Marwah binti Marwan telah menceritakan kepadaku (dia berkata) Ibuku, Atikah binti Bakar telah menceritakan kepadaku dari bapaknya (dia berkata), aku mendengar Az-Zuhri menceritakan dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar bahwasannya Rasulullah sas. Bersabda: lalu dia menyebutkannya. Dan Abu Nu’aim berkata sesudahnya: “Hadits yang gharib”. Dan kukatakan bahwa sanadnya maudlu’, karena selain Az-Zuhri mereka tidak tersebut dalam kitab-kitab hadits sedikitpun selain Abdullah bin Sa’d Ar-Raqi karena dia ma’ruf (dikenal), namun dengan kebohongan!

Al-Hafidh Adz-Dzahabi berkata dalam “Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal” dan Al-Hafidh Ahmad bin Hajar Al-‘Asqalni mengikutinya dalam kitab “Lisanul Mizan”, Ad-Daruquthni menganggapnya pembohong dan berkata: “Dia telah membikin-bikin hadits, Ahmad bin Abdan menganggapnya wahin (bingung). Hadits ini memiliki illat (cacat) yang lain yaitu kemajhulan Bakr, yaitu bin Muhammad. Dalam biografinya Ibnu Asakirpun telah menuliskannya tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil untuknya. Memang, hadits ini shahih tanpa perkataan di akhir “dalam agama dan dunianya”. Waki’ mengeluarkankannya dalam “Az-Zuhdi” (2/68/2) dan Ahmad (meriwayatkan) darinya (5/363) dan Al-Qudla’I dalam “Musnadus Syihab”(no.1135) dengan lafal “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla kecuali Allah menggantimu karenanya apa yang lebih baik darinya.” Sanadnya shahih menurut syarat Muslim. Al-Ashbahani mengeluarkannya juga dalam “At-Targhib” (73/1) kemudian meriwayatkan syahid dari hadits Ubay bin Ka’ab dengan sanad La ba`sa bihi (tidak bermasalah) dalam kitab “Asy-Syawahid”.

Hadits 4

4 - " الحديث فى المسجد يأكل الحسنات كما تأكل البهائم الحشيش " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 60 ) : لا أصل له .

أورده الغزالي في " الإحياء " ( 1 / 136 ) فقال مخرجه الحافظ العراقي : لم أقف له على أصل و بيض له الحافظ في " تخريج الكشاف " ( 73 / 95 و 130 / 176 ) . و قال عبد الوهاب بن تقى الدين السبكي في " طبقات الشافعية "

( 4 / 145 - 147 ) : لم أجد له إسنادا . و المشهور على الألسنة : " الكلام المباح في المسجد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب " و هو هو .

Terjemah:

“Ngobrol di dalam masjid itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana binatang-binatang ternak itu memakan rumput”.

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/60) mengatakan bahwa riwayat itu tidak ada asalnya. Al-Ghazali telah meriwayatkannya dalam “Al-Ihya” (1/136), lalu Al-Hafidh Al-Iraqi yang telah mengeluarkannya mengatakan: “Aku tidak tahu bahwa riwayat itu memiliki asal”. Sedangkan Al-Hafidh mengosongkannya dalam “Takhrijul Kasyaf” (73/95 dan 130/176). Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin As-Subki berkata dalam “Thabaqatusy Syafi’iyyah” (4/145-147): “Aku tidak mendapatkan sanadnya”. Dan yang sering diucapkan: “Omong-omong yang mubah di dalam masjid itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api itu memakan kayu bakar”. Dan itulah yang dimaksud.

Hadits 3

3 - " همة الرجال تزيل الجبال " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 59 ) : ليس بحديث . قال الشيخ إسماعيل العجلونى في " كشف الخفاء " : لم أقف على أنه حديث ، لكن نقل بعضهم عن الشيخ أحمد الغزالي أنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " همة الرجال تقلع الجبال " فليراجع . قلت : قد راجعنا مظانه في كتب السنة فلم نجد له أصلا ، و إيراد الشيخ أحمد الغزالي له لا يثبته ، فليس هو من المحدثين ، و إنما هو مثل أخيه محمد من فقهاء

الصوفية ، و كم في كتاب أخيه " الإحياء " من أحاديث جزم بنسبتها إلى النبي صلى الله عليه وسلم و هي مما يقول الحافظ العراقي و غيره فيها : لا أصل له منها.

Terjemah ringkasan:

“Obsesi para lelaki itu dapat mengguncangkan gunung-gunung”

Al-Albani berkata dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/59): “Itu bukanlah sebuah hadits”. Syaikh Ismail Al-‘Ajaluni dalam “Kasyful Khifa`” mengatakan: “Aku tidak mengetahui bahwa itu adalah hadits, akan tetapi sebagian mereka menukil dari Syaikh Ahmad Al-Ghazali bahwa dia berkata: “Rasulullah sas. bersabda: “Obsesi para lelaki itu dapat menenggelamkan gunung-gunung”. Maka hendaklah ditilik kembali.

Aku berkata: “Kami sudah menilik kemungkinan-kemungkinannya dalam kitab sunan, dan kami belum mendapatkan asalnya. Sedangkan periwayatan hadis tersebut oleh Syaikh Ahmad Al-Ghazali tidak menjadikannya shahih, karena dia bukan dari kalangan muhadditsin. Dia hanya seperti saudaranya Muhammad dari kalangan fuqoha sufi. Berapa banyak dalam kitab saudaranya “Al-Ihya” yang telah ia tetapkan dengan penisbatan hadits-hadits tersebut kepada Nabi sas, sedangkan Al-Hafidh Al-‘Iraqi dan selainnya telah mengatakan bahwa hadits-hadits tersebut tidak ada asal baginya.

Hadits 2

2-" من لم تنهه صلاته عن الفحشاء و المنكر لم يزدد من الله إلا بعدا "

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 54 ) :باطل .

و هو مع اشتهاره على الألسنة لا يصح من قبل إسناده ، و لا من جهة متنه . أما إسناده فقد أخرجه الطبراني في " المعجم الكبير " ( 3 / 106 / 2 مخطوطة الظاهرية) و القضاعي في " مسند الشهاب " ( 43 / 2 ) و ابن أبي حاتم كما في " تفسير ابن كثير " ( 2 / 414 ) و " الكواكب الدراري " ( 83 / 2 / 1 ) من طريق ليث عن طاووس عن ابن عباس . و هذا إسناد ضعيف من أجل ليث هذا ـ و هو ابن أبي سليم ـ فإنه ضعيف ، قال الحافظ ابن حجر في ترجمته من " تقريب التهذيب " : صدوق اختلط أخيرا و لم يتميز حديثه فترك . و به أعله الهيثمي في " مجمع الزوائد " ( 1 / 134 ) . و قال شيخه الحافظ العراقي في " تخريج الإحياء " ( 1 / 143 ) : إسناده لين . قلت : و قد أخرجه الحافظ ابن جرير في تفسيره ( 20 / 92 ) من طريق أخرى عن ابن عباس موقوفا عليه من قوله ، و لعله الصواب و إن كان في سنده رجل لم يسم . و رواه الإمام أحمد في كتاب " الزهد " ( ص 159 ) و الطبراني في " المعجم الكبير " عن ابن مسعود موقوفا عليه بلفظ : " من لم تأمره الصلاة بالمعروف و تنهاه عن المنكر لم يزدد بها إلا بعدا " . و سنده صحيح كما قال الحافظ العراقي ، فرجع الحديث إلى أنه موقوف ، ثم رأيته في معجم ابن الأعرابي قال ( 193 / 1 ) ، أنبأنا عبد الله ـ يعني ابن أيوب المخرمي ـ أنبأنا يحيى بن أبي بكير عن إسرائيل عن إسماعيل عن الحسن قال : لما نزلت هذه الآية *( إن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر )* ( العنكبوت : 45) قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ... فذكره . و هذا مرسل ، و إسماعيل هو ابن مسلم ، فإن كان أبا محمد البصري فهو ثقة ، و إن كان أبا إسحاق المكي فهو ضعيف ، لكن قال الحافظ العراقي : رواه علي بن معبد في كتاب " الطاعة و المعصية " من حديث الحسن مرسلا بإسناد صحيح . قلت : يعني أن إسناده إلى الحسن صحيح ، و لا يلزم منه أن يكون الحديث صحيحا لما عرف من علم " مصطلح الحديث " أن الحديث المرسل من أقسام الحديث الضعيف عند جمهور علماء الحديث ، و لا سيما إذا كان من مرسل الحسن و هو البصري ، قال ابن سعد في ترجمته : كان عالما جامعا رفيعا ثقة ... ما أرسله فليس بحجة . و حتى إنه لو فرض أن الحسن وصل الحديث و أسنده و لم يصرح بالتحديث أو بسماعه من الذي أسنده إليه كما لو قال : عن سمرة أو عن أبي هريرة لم يكن حديثه حجة ، فكيف لو أرسله كما في هذا الحديث ؟ ! قال الحافظ الذهبي في " ميزان الاعتدال " : كان الحسن كثير التدليس ، فإذا قال في حديث عن فلان ضعف احتجاجه و لا سيما عمن قيل : إنه لم يسمع منهم كأبي هريرة و نحوه ، فعدوا ما كان له عن أبي هريرة في جملة المنقطع . على أنه قد ورد الحديث عن الحسن من قوله أيضا لم ينسبه إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، كذلك أخرجه الإمام أحمد في " الزهد " ( ص 264 ) و إسناده صحيح ، و كذلك رواه ابن جرير ( 20 / 92 ) من طرق عنه و هو الصواب . ثم وجدت الحديث في " مسند الشهاب " ( 43 / 2 ) من طريق مقدام بن داود قال : أنبأنا علي بن محمد بن معبد بسنده المشار إليه آنفا عن الحسن مرفوعا ، و مقدام هذا قال النسائي : ليس بثقة ، فإن كان رواه غيره عن علي بن معبد و كان ثقة فالسند صحيح مرسلا كما سبق عن العراقي و إلا فلا يصح . و جملة القول أن الحديث لا يصح إسناده إلى النبي صلى الله عليه وسلم و إنما صح من قول ابن مسعود و الحسن البصري ، و روي عن ابن عباس . و لهذا لم يذكره شيخ الإسلام ابن تيمية في " كتاب الإيمان " ( ص 12 ) إلا موقوفا على ابن مسعود و ابن عباس رضي الله عنهما . و قال ابن عروة في " الكواكب " : إنه الأصح . ثم رأيت الحافظ ابن كثير قال بعد أن ساق الحديث عن عمران بن حصين و ابن عباس و ابن مسعود و الحسن مرفوعا : و الأصح في هذا كله الموقوفات عن ابن مسعود و ابن عباس و الحسن و قتادة و الأعمش و غيرهم . قلت : و سيأتي حديث عمران في المائة العاشرة إن شاء الله تعالى و هو بهذا اللفظ إلا أنه قال : " فلا صلاة له " بدل " لم يزدد عن الله إلا بعدا " و هو منكر أيضا كما سيأتي بيانه هناك بإذن الله تعالى فانظره برقم ( 985 ) . و أما متن الحديث فإنه لا يصح ، لأن ظاهره يشمل من صلى صلاة بشروطها و أركانها بحيث أن الشرع يحكم عليها بالصحة و إن كان هذا المصلي لا يزال يرتكب بعض المعاصي ، فكيف يكون بسببها لا يزداد بهذه الصلاة إلا بعدا ؟ ! هذا مما لا يعقل و لا تشهد له الشريعة ، و لهذا تأوله شيخ الإسلام ابن تيمية بقوله : و قوله " لم يزدد إلا بعدا " إذا كان ما ترك من الواجب منها أعظم مما فعله ، أبعده ترك الواجب الأكثر من الله أكثر مما قربه فعل الواجب الأقل . و هذا بعيد عندي ، لأن ترك الواجب الأعظم منها معناه ترك بعض ما لا تصح الصلاة إلا به كالشروط و الأركان ، و حينئذ فليس له صلاة شرعا ، و لا يبدو أن هذه الصلاة هي المرادة في الحديث المرفوع و الموقوف ، بل المراد الصلاة الصحيحة التي لم تثمر ثمرتها التي ذكرها الله تعالى في قوله : *( إن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر )* ( العنكبوت : 45 ) و أكدها رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قيل له : إن فلانا يصلي الليل كله فإذا أصبح سرق ! فقال : " سينهاه ما تقول أو قال : ستمنعه صلاته " . رواه أحمد و البزار و الطحاوي في " مشكل الآثار " ( 2 / 430 ) و البغوي في حديث علي بن الجعد ( 9 / 97 / 1 ) و أبو بكر الكلاباذي في " مفتاح معاني الآثار " (31 / 1 / 69 / 1 ) بإسناد صحيح من حديث أبي هريرة . فأنت ترى أن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر أن هذا الرجل سينتهي عن السرقة بسبب صلاته - إذا كانت على الوجه الأكمل طبعا كالخشوع فيها و التدبر في قراءتها - و لم يقل : إنه " لا يزداد بها إلا بعدا " مع أنه لما ينته عن السرقة. و لذلك قال عبد الحق الإشبيلي في " التهجد " ( ق 24 / 1 ) : يريد عليه السلام أن المصلي على الحقيقة المحافظ على صلاته الملازم لها تنهاه صلاته عن ارتكاب المحارم و الوقوع في المحارم . فثبت بما تقدم ضعف الحديث سندا و متنا والله أعلم . ثم رأيت الشيخ أحمد بن محمد عز الدين بن عبد السلام نقل أثر ابن عباس هذا في كتابه " النصيحة بما أبدته القريحة " ( ق 32 / 1 ) عن تفسير الجاربردي و قال : و مثل هذا ينبغي أن يحمل على التهديد لما تقرر أن ذلك ليس من الأركان و الشرائط ثم استدل على ذلك بالحديث المتقدم : " ستمنعه صلاته " و استصوب الشيخ أحمد كلام الجاربردي هذا و قال : لا يصح حمله على ظاهره ، لأن ظاهره معارض بما ثبت في الأحاديث الصحيحة المتقدمة من أن الصلاة مكفرة للذنوب ، فكيف تكون مكفرة و يزداد بها بعدا ؟ ! هذا مما لا يعقل ! ثم قال : قلت : و حمل الحديث على المبالغة و التهديد ممكن على اعتبار أنه موقوف على ابن عباس أو غيره و أما على اعتباره من كلامه صلى الله عليه وسلم فهو بعيد عندي والله أعلم . قال : و يشهد لذلك ما ثبت في البخاري أن رجلا أصاب من امرأة قبلة فذكر للنبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى *( إن الحسنات يذهبن السيئات )* . ثم رأيت شيخ الإسلام ابن تيمية قال في بعض فتاواه : هذا الحديث ليس بثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم لكن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر كما ذكر الله في كتابه ، و بكل حال فالصلاة لا تزيد صاحبها بعدا ، بل الذي يصلي خير من الذي لا يصلي و أقرب إلى الله منه و إن كان فاسقا . قلت : فكأنه يشير إلى تضعيف الحديث من حيث معناه أيضا و هو الحق و كلامه المذكور رأيته في مخطوط محفوظ في الظاهرية ( فقه حنبلى 3 / 12 / 1 - 2 ) و قد نقل الذهبي في " الميزان " ( 3 / 293 ) عن ابن الجنيد أنه قال في هذا الحديث : كذب و زور .

Terjemah ringkasan:

“Barangsiapa yang shalatnya tidak bisa menahannya dari perbuatan keji dan munkar, maka Allah tidak akan menambahi kecuali penjauhan”.

Al-Albani dalam Silsilatul Ahaditsidl Dlaifah (1/54) mengatakan bahwa hadits ini bathil. Walaupun hadits ini biasa diucapkan, namun dari sedi sanad dan matan hadits ini tidak shahih. Adapun sanadnya, maka Ath-Thabarani telah mengeluarkannya dalam “Al-Mu’jamul Kabir” (3/106/2 makhthuthatut Dlahiriyyah) dan Al-Qudla’i mengeluarkannya dalam “Musnadusy Syihab” (43/2) dan Ibnu Abi Hatim juga mengeluarkannya sebagaimana dalam “Tafsir Ibnu Katsir” (2/414) dan kitab “Al-Kawakibud Durari” (83/2/1) dari Laits dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas. Ini adalah sanad yang dlaif karena Laits—dia adalah Laits bin Abi Sulaim—dia perawi dlaif. Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam biografi Laits pada kitabnya “Taqribut Tahdzib” mengatakan bahwa dia perawi shaduq, tercampur hafalannya di akhir (umurnya) dan haditsnya belum bisa dipilah-pilah, maka haditsnyapun ditinggalkan.....

Ketika Cinta Harus Menentukan (2-Selesai)

“Menurut Dina, lelaki yang layak untuk Dina jadikan suami yang gimana sih?” sambil kuhirup teh suguhannya, aku coba tanya.

“Assalamu’alaikum”, teman serumah Dina tersenyum kepada kami. “Wa’alaikumsalam, baru pulang Tin?”

“Ya, Mas. Waduh, capek juga nih hari. Ada komplain dari perusahaan rekanan Mas. Katanya produk kami banyak yang gagal.” Tanpa ditanya, teman serumah Dina itu langsung duduk disamping Dina. “Din, tehmu kuminum ya...” langsung dia dekatkan cangkir ke mulutnya.

“Titin...”

“Ya Din?”

“Aku lagi serius nih.”

“Ups, sorry...sorry... Ma’af ya Mas Habib. Nggak jadi mampir deh nih cangkir. Lagian tumben sore-sore main ke sini, Mas. Yuk....Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam”

“Anu, Kak. Susah njawab pertanyaan Kak Habib itu. Dina sih nggak macam-macam kok. Nggak banyak syarat, nggak milih-milih. Asal bisa ngajarin Dina, bisa mimpin Dina. Itu cukup buat Dina kok.”

“Apa nurut Dina. Habib ini cukup memenuhi syarat untuk itu?”

“Ya... sepengetahuan Dina sih cukup, Kak. Kak Habib bisa ngaji. Baca Al Qur’an, ngerti tafsir, ngerti kitab hadits.”

“Ah, nggak pernah mondok juga. Ngerti tapi asal aja.”

“Dan selama ini Kak Habib lumayan terkenal di perusahaan. Kemarin tuh benar kan Kak, waktu ada pencalonan pengurus masjid yang baru dibangun di PT Kak Habib kerja itu?”

“Kenapa memangnya?”

“Kak Habib dicalonkan jadi pengurus bidang kerohanian karyawan, kan?”

“Ah itu kan maunya segelintir orang saja. Yang lain nggak begitu kok. Cuma daripada nggak ada saja kali.”

“Tapi itu cukup jadi bukti untuk Dina, Kak.”

“Hanya itu?”

“Iya, Kak.”

“Baik. Sekarang aku mau tanya lagi. Nggak apa-apa kan?”

“Silakan, Kak.”

“Orang tuamu sudah tahu keinginan kamu ini. Dan apakah mereka sudah setuju dengan pilihan kamu juga?”

“Ya, itulah Kak. Saya belum memberitahukan hal ini kepada mereka. Selain jauh, orang tua Dina masih agak kolot kalau soal jodoh. Dina kadang khawatir kalau-kalau mereka nggak setuju.”

“Nah. Itu masalah prinsip juga, Dina.”

“Kamu sudah ngerti kan, kalau perempuan itu dalam kekuasaan walinya. Orang tua Dina adalah orang yang paling berhak atas perjodohan Dina. Memang sih, iya atau nggaknya terserah Dina juga. Tapi kalau orang tua nggak setuju, kita mau apa. Kalau soal kolot, sih...itu tergantung dari mana kita melihatnya. Setahuku, orang Padang itu masih kuat pengaruh Islam dalam adatnya. Apalagi orang tua Dina, kelihatan dari cara Dina membawa diri kok. Dan nggak ada orang tua yang pengin menyusahkan anak-anaknya.”

“Juga, belum nemu nih gadis Padang menikah sama orang Jawa. Kalau sebaliknya sudah banyak aku lihat. Ini nggak cukup jadi masalah bagi Dina? Memang sih, beda suku itu bukan perkara penting. Tapi kadang jadi ganjalan juga kan.”

Dina diam.

Kulempar pandanganku keluar. Kulihat di jalan ada seorang ibu menawarkan makanan kecil. Membantu suami mungkin. Atau malah jadi punggung keluarga. Konon sekarang ini banyak laki-laki jadi pengangguran. Katanya banyak perusahaan yang lebih senang mempekerjakan kaum perempuan ketimbang laki-laki.

“Perempuan lebih enak, Mas.” temanku yang personalia pernah bilang begitu. “Nggak bakalan berani nuntut macem-macem. Coba laki-laki, banyak maunya. Yang uang kesehatan lah, uang kesejahteraan lah, upah nggak cukup lah.”

“Ini orang kayak bos saja ngomongnya.” batinku.

“Dina...”

“I..iya Kak.”

“Sekali lagi. Bukan apa-apa. Tapi tolong dipikir lagi omonganku tadi.”

“Bagiku sih, sederhana saja.”

“Memang banyak orang menyangka aku ini selektif. Terlalu selektif bahkan. Itu karena mereka nggak tahu aja. Alhamdulillah, aku berhasil tidak pacaran selama ini. Karena memang bagiku, lebih bersih hati kita kalau mau membina keluarga tanpa proses pacaran.”

“Lagian orang pacaran itu kan banyak gombalnya aja.”

“Belum lagi kalau kita ngeliat hadits nabi soal hubungan laki-laki dengan perempuan. Yang jelas bahaya kan.”

“Aku hargai sikap Dina untuk hal ini. Aku hormati.”

“Tapi aku sudah punya...”

“Kak Habib sudah ada calon?” sela Dina.

“Bukan.”

“Tapi aku sudah punya tekad. Bahwa aku tidak memilih sendiri siapa istriku nanti....”

“Ya.... Aku takut.”

“Aku takut salah memilih calon istriku. Takut salah pilih.”

“Bisa saja aku memilih seorang calon istri karena menurutku dia baik untukku. Tapi itu terlalu subyektif menurutku. Jangan-jangan aku mencintai seseorang padahal dia nggak baik untukku. Tapi sebaliknya, aku nggak suka seseorang padahal dia baik untukku.”

“Jadi untuk satu hal ini, aku coba kekang rasa hatiku sendiri. Aku laki-laki biasa. Laki-laki normal. Punya rasa suka kepada perempuan cantik. Apalagi kalau dia muslimah yang berjilbab lebar macam Dina juga. Rasanya hati ini seperti menemukan kesejukan dan kebahagiaan di sana.”

“Tapi aku ini laki-laki yang belum pengalaman soal istri. Sama seperti bujangan-bujangan di luar sana. Jadi, aku harus serahkan urusan satu ini kepada orang yang sudah pengalaman.”

“Ya. Aku sudah serahkan perjodohanku ini kepada guruku, ustadzku. Beliau yang selama ini mengajariku ilmu agama. Beliau pula yang selama ini mengenalku sedalam-dalamnya. Beliau memahami sifatku, memahami karakterku. Beliau tahu siapa yang kiranya pantas untuk mendampingiku. Sesudah kuasa Allah, beliaulah yang layak mencarikanku pasangan bagiku.”

“Iya, Kak. Dina bisa mengerti perasaan Kak Habib. Dan Dina juga sangat berharap seperti yang Kak Habib harapkan. Ma’afkan Dina ya Kak.”

“Nggak Dina. Kamu nggak salah apapun dalam hal ini. Bahkan aku berterima kasih kepadamu. Karena kamu sudah berterus terang dalam soal ini.”

“Alhamdulillah. Sepertinya kita sudah bisa saling mengerti dalam persoalan ini. Mudah-mudahan Allah pilihkan suami terbaik untuk Dina nanti. Dan tolong do’a Dina untukku, mudah-mudahan Allah berikan yang terbaik buatku juga, ya....”

“Iya, Kak.”

“Kak. Terima kasih ya.... Kak Habib bisa mengerti saya. Meski Dina nggak bisa berharap lagi, tapi Dina sudah lega.”

“Eh...tehnya sampai lupa. Diminum, Kak.”

“O..iya.”

Kembali kuminum teh yang tinggal sedikit itu. Manis....

(Ya Allah, jadikan rasa cintaku ini, sebagai rasa cinta yang bisa menuntunku menentukan hal yang terbaik untukku. Ya Allah. Jadikan rasa cintaku ini sebagai jalan penghambaanku kepada-Mu)