“Menurut Dina, lelaki yang layak untuk Dina jadikan suami yang gimana sih?” sambil kuhirup teh suguhannya, aku coba tanya.
“Assalamu’alaikum”, teman serumah Dina tersenyum kepada kami. “Wa’alaikumsalam, baru pulang Tin?”
“Ya, Mas. Waduh, capek juga nih hari. Ada komplain dari perusahaan rekanan Mas. Katanya produk kami banyak yang gagal.” Tanpa ditanya, teman serumah Dina itu langsung duduk disamping Dina. “Din, tehmu kuminum ya...” langsung dia dekatkan cangkir ke mulutnya.
“Titin...”
“Ya Din?”
“Aku lagi serius nih.”
“Ups, sorry...sorry... Ma’af ya Mas Habib. Nggak jadi mampir deh nih cangkir. Lagian tumben sore-sore main ke sini, Mas. Yuk....Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
“Anu, Kak. Susah njawab pertanyaan Kak Habib itu. Dina sih nggak macam-macam kok. Nggak banyak syarat, nggak milih-milih. Asal bisa ngajarin Dina, bisa mimpin Dina. Itu cukup buat Dina kok.”
“Apa nurut Dina. Habib ini cukup memenuhi syarat untuk itu?”
“Ya... sepengetahuan Dina sih cukup, Kak. Kak Habib bisa ngaji. Baca Al Qur’an, ngerti tafsir, ngerti kitab hadits.”
“Ah, nggak pernah mondok juga. Ngerti tapi asal aja.”
“Dan selama ini Kak Habib lumayan terkenal di perusahaan. Kemarin tuh benar kan Kak, waktu ada pencalonan pengurus masjid yang baru dibangun di PT Kak Habib kerja itu?”
“Kenapa memangnya?”
“Kak Habib dicalonkan jadi pengurus bidang kerohanian karyawan, kan?”
“Ah itu kan maunya segelintir orang saja. Yang lain nggak begitu kok. Cuma daripada nggak ada saja kali.”
“Tapi itu cukup jadi bukti untuk Dina, Kak.”
“Hanya itu?”
“Iya, Kak.”
“Baik. Sekarang aku mau tanya lagi. Nggak apa-apa kan?”
“Silakan, Kak.”
“Orang tuamu sudah tahu keinginan kamu ini. Dan apakah mereka sudah setuju dengan pilihan kamu juga?”
“Ya, itulah Kak. Saya belum memberitahukan hal ini kepada mereka. Selain jauh, orang tua Dina masih agak kolot kalau soal jodoh. Dina kadang khawatir kalau-kalau mereka nggak setuju.”
“Nah. Itu masalah prinsip juga, Dina.”
“Kamu sudah ngerti kan, kalau perempuan itu dalam kekuasaan walinya. Orang tua Dina adalah orang yang paling berhak atas perjodohan Dina. Memang sih, iya atau nggaknya terserah Dina juga. Tapi kalau orang tua nggak setuju, kita mau apa. Kalau soal kolot, sih...itu tergantung dari mana kita melihatnya. Setahuku, orang Padang itu masih kuat pengaruh Islam dalam adatnya. Apalagi orang tua Dina, kelihatan dari cara Dina membawa diri kok. Dan nggak ada orang tua yang pengin menyusahkan anak-anaknya.”
“Juga, belum nemu nih gadis Padang menikah sama orang Jawa. Kalau sebaliknya sudah banyak aku lihat. Ini nggak cukup jadi masalah bagi Dina? Memang sih, beda suku itu bukan perkara penting. Tapi kadang jadi ganjalan juga kan.”
Dina diam.
Kulempar pandanganku keluar. Kulihat di jalan ada seorang ibu menawarkan makanan kecil. Membantu suami mungkin. Atau malah jadi punggung keluarga. Konon sekarang ini banyak laki-laki jadi pengangguran. Katanya banyak perusahaan yang lebih senang mempekerjakan kaum perempuan ketimbang laki-laki.
“Perempuan lebih enak, Mas.” temanku yang personalia pernah bilang begitu. “Nggak bakalan berani nuntut macem-macem. Coba laki-laki, banyak maunya. Yang uang kesehatan lah, uang kesejahteraan lah, upah nggak cukup lah.”
“Ini orang kayak bos saja ngomongnya.” batinku.
“Dina...”
“I..iya Kak.”
“Sekali lagi. Bukan apa-apa. Tapi tolong dipikir lagi omonganku tadi.”
“Bagiku sih, sederhana saja.”
“Memang banyak orang menyangka aku ini selektif. Terlalu selektif bahkan. Itu karena mereka nggak tahu aja. Alhamdulillah, aku berhasil tidak pacaran selama ini. Karena memang bagiku, lebih bersih hati kita kalau mau membina keluarga tanpa proses pacaran.”
“Lagian orang pacaran itu kan banyak gombalnya aja.”
“Belum lagi kalau kita ngeliat hadits nabi soal hubungan laki-laki dengan perempuan. Yang jelas bahaya kan.”
“Aku hargai sikap Dina untuk hal ini. Aku hormati.”
“Tapi aku sudah punya...”
“Kak Habib sudah ada calon?” sela Dina.
“Bukan.”
“Tapi aku sudah punya tekad. Bahwa aku tidak memilih sendiri siapa istriku nanti....”
“Ya.... Aku takut.”
“Aku takut salah memilih calon istriku. Takut salah pilih.”
“Bisa saja aku memilih seorang calon istri karena menurutku dia baik untukku. Tapi itu terlalu subyektif menurutku. Jangan-jangan aku mencintai seseorang padahal dia nggak baik untukku. Tapi sebaliknya, aku nggak suka seseorang padahal dia baik untukku.”
“Jadi untuk satu hal ini, aku coba kekang rasa hatiku sendiri. Aku laki-laki biasa. Laki-laki normal. Punya rasa suka kepada perempuan cantik. Apalagi kalau dia muslimah yang berjilbab lebar macam Dina juga. Rasanya hati ini seperti menemukan kesejukan dan kebahagiaan di sana.”
“Tapi aku ini laki-laki yang belum pengalaman soal istri. Sama seperti bujangan-bujangan di luar sana. Jadi, aku harus serahkan urusan satu ini kepada orang yang sudah pengalaman.”
“Ya. Aku sudah serahkan perjodohanku ini kepada guruku, ustadzku. Beliau yang selama ini mengajariku ilmu agama. Beliau pula yang selama ini mengenalku sedalam-dalamnya. Beliau memahami sifatku, memahami karakterku. Beliau tahu siapa yang kiranya pantas untuk mendampingiku. Sesudah kuasa Allah, beliaulah yang layak mencarikanku pasangan bagiku.”
“Iya, Kak. Dina bisa mengerti perasaan Kak Habib. Dan Dina juga sangat berharap seperti yang Kak Habib harapkan. Ma’afkan Dina ya Kak.”
“Nggak Dina. Kamu nggak salah apapun dalam hal ini. Bahkan aku berterima kasih kepadamu. Karena kamu sudah berterus terang dalam soal ini.”
“Alhamdulillah. Sepertinya kita sudah bisa saling mengerti dalam persoalan ini. Mudah-mudahan Allah pilihkan suami terbaik untuk Dina nanti. Dan tolong do’a Dina untukku, mudah-mudahan Allah berikan yang terbaik buatku juga, ya....”
“Iya, Kak.”
“Kak. Terima kasih ya.... Kak Habib bisa mengerti saya. Meski Dina nggak bisa berharap lagi, tapi Dina sudah lega.”
“Eh...tehnya sampai lupa. Diminum, Kak.”
“O..iya.”
Kembali kuminum teh yang tinggal sedikit itu. Manis....
(Ya Allah, jadikan rasa cintaku ini, sebagai rasa cinta yang bisa menuntunku menentukan hal yang terbaik untukku. Ya Allah. Jadikan rasa cintaku ini sebagai jalan penghambaanku kepada-Mu)