Rabu, 14 Mei 2008

Hadits 7

7-" اثنتان لا تقربهما : الشرك بالله و الإضرار بالناس " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 63 ) : لا أصل له . و قد اشتهر بهذا اللفظ و لم أقف عليه في شيء من كتب السنة ، و لعل أصله ما في " الإحياء " للغزالي ( 2 / 185 ) قال صلى الله عليه وسلم : " خصلتان ليس فوقهما شيء من الشر : الشرك بالله و الضر لعباد الله ، و خصلتان ليس فوقهما شيء من البر : الإيمان بالله ، و النفع لعباد الله " . و هو حديث لا يعرف له أصل . قال العراقي في تخريجه : ذكره صاحب الفردوس من حديث علي ، و لم يسنده ولده في مسنده . و لهذا أورده السبكي في الأحاديث التي وقعت في " الإحياء " و لم يجد لها إسنادا ( 4 / 156 ) .

Terjemah:

“Benar-benar jangan mendekati dua perkara: Menyekutukan Allah dan memadlarati orang.”

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/63) berkata: “Tidak ada asal baginya.” Riwayat tersebut sudah dikenal dengan lafal ini, namun aku tidak mengtahuinya sedikitpun dari kitab-kitab sunan, barangkali asalnya yang terdapat dalam “Al-Ihya’” milik Al-Ghazali (2/185). Rasulullah sas. “Ada dua perkara yang tidak ada sesuatupun yang lebih buruk dari keduanya, yaitu menyekutukan Allah dan memadlarati hamba-hamba Allah. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatupun yang lebih baik dari keduanya, yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi hamba-hamba Allah.” Hadits ini tidak diketahui asalnya! Al-‘Iraqi dalam takhrij hadits ini mengatakan: “Penyusun kitab “Al-Firdaus” telah menyebutkannya dari hadits Ali, sedangkan anaknya tidak menyebutkan sanad dalam musnadnya.” Karena itulah As-Subki menyebutkannya dalam hadits-hadits yang ada dalam “Al-Ihya” dan tidak mendapatkan sanadnya (4/156).

Hadits 6

6 - " تنكبوا الغبار فإنه منه تكون النسمة " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 62 ) : لا أعلم له أصلا . أورده ابن الأثير في مادة نسم من " النهاية " و ذكر أنه حديث ! و لا أعرف له أصلا مرفوعا و قد روى ابن سعد في " الطبقات الكبرى " ( 8 / 2 / 198 ) فقال : و قال عبد الله بن صالح المصري عن حرملة بن عمران عمن حدثهم عن ابن سندر مولى النبي صلى الله عليه وسلم قال : أقبل عمرو بن العاص و ابن سندر معهم ، فكان ابن سندر و نفر معه يسيرون بين يدي عمرو بن العاص فأثاروا الغبار ، فجعل عمرو طرف عمامته على أنفه ثم قال : اتقوا الغبار فإنه أوشك شيء دخولا ، و أبعده خروجا ، و إذا وقع على الرئة صار نسمة . و هذا مع كونه موقوفا لا يصح من قبل سنده لأمور : الأول : أن ابن سعد علقه ، فلم يذكر الواسطة بينه و بين عبد الله بن صالح . الثاني : أن ابن صالح فيه ضعف و إن روى له البخاري فقد قال ابن حبان : كان في نفسه صدوقا ، إنما وقعت المناكير في حديثه من قبل جار له ، فسمعت ابن خزيمة يقول : كان بينه و بينه عداوة ، كان يضع الحديث على شيخ ابن صالح ، و يكتبه بخط يشبه خط عبد الله ، و يرميه في داره بين كتبه ، فيتوهم عبد الله أنه خطه فيحدث به ! . الثالث : أن الواسطة بين حرملة و ابن سندر لم تسم فهي مجهولة .

Terjemah:

“Singkirkanlah debu karena dia dapat mengakibatkan penyakit asma”

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/62) mengatakan: “Aku tidak tahu ada asal untuknya.” Ibnu Atsir menuliskannya dalam bab نسم dari “An-Nihayah” dan menyebutkan bahwa ia adalah sebuah hadits, namun aku tidak tahu riwayat ini memiliki asal yang marfu’. Ibnu Sa’id meriwayatkan dalam “At-Thabaqatul Kubra” (8/2/198), dia berkata: “Abdullah bin Shalih Al-Mishri mengatakan dari Harmalah bin Imran dari orang yang menceritakan kepada mereka dari Ibnu Sandr maula Nabi sas. Dia berkata: “Amr bin ‘Ash datang dan Ibnu Sandr juga bersama mereka, maka Ibnu Sandr dan beberapa orang bersamanya berjalan di depan Amr bin Ash dengan menyisakan debu. Kemudian Amr meletakkan ujung sorbannya di hidung lalu berkata: “Berhati-hatilah dengan debu karena dia sesuatu yang paling cepat masuk dan paling sulit keluar, apabila mengenai paru-paru maka bisa mengakibatkan penyakit asma.” Selain karena riwayat ini mauquf dari segi sanadnya juga tidak shahih karena beberapa faktor:

Pertama: Ibnu Sa’id telah menta’liqnya, maka tidak disebutkan perantara antara dia dan Abdullah bin Shalih. Kedua: Ibnu Shalih mempunyai kelemahan, meskipun Al-Bukhari memakai periwayatannya namun Ibnu Hibban telah mengatakan: “Dia seorang yang shaduq. Adanya hadits-hadits munkar dalam haditsnya disebabkan karena tetangganya.” Lalu aku mendengar Ibnu Huzaimah berkata: “Ada permusuhan antara Ibnu Shalih dan tetangganya, dia membikin-bikin hadits dari syaikh Ibnu Shalih dan menuliskannya dengan menyerupai tuliskan Abdullah lalu melemparkannya ke rumah Ibnu Shalih, diantara kitab-kitabnya. Maka Ibnu Shalih mengganggap itu sebagai tulisannya lalu diapun meriwayatkannya!” Ketiga: Perantara antara Harmalah dan Ibnu Sandr tidak disebutkan namanya, berarti dia majhul.

Hadits 5

5 - " ما ترك عبد شيئا لله لا يتركه إلا لله إلا عوضه منه ما هو خير له فى دينه و دنياه ".

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 61 ) : موضوع بهذا اللفظ. و قد سمعته في كلمة ألقاها بعض الأفاضل من إذاعة دمشق في هذا الشهر المبارك شهررمضان ! أخرجه أبو نعيم في " حلية الأولياء " ( 2 / 196 ) و عنه الديلمي ( 4 / 27 ـ الغرائب الملتقطة ) و السلفي في " الطيوريات " ( 200 / 2 ) و ابن عساكر ( 3 / 208 / 2 و 15 / 70 / 1 ) من طريق عبد الله بن سعد الرقي حدثتني والدتي مروة بنت مروان قالت حدثتني والدتي عاتكة بنت بكار عن أبيها قالت : سمعت الزهري يحدث عن سالم بن عبد الله عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : فذكره و قال أبو نعيم عقبه : حديث غريب . و أقول : أن إسناده موضوع ، فإن من دون الزهري لا ذكر لهم في شيء من كتب الحديث غير عبد الله بن سعد الرقي فإنه معروف ، و لكن بالكذب ! قال الحافظ الذهبي في " ميزان الاعتدال في نقد الرجال " و تبعه الحافظ أحمد بن حجر العسقلاني في " لسان الميزان " : كذبه الدارقطني و قال : كان يضع الحديث وهاه أحمد بن عبدان . و فيه علة أخرى و هي جهالة بكار هذا و هو ابن محمد و في ترجمته أورده ابن عساكر و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا . نعم صح الحديث بدون قوله في آخره " في دينه و دنياه " . أخرجه وكيع في " الزهد " ( 2 / 68 / 2 ) و عنه أحمد ( 5 / 363 ) و القضاعي في " مسند الشهاب " ( رقم 1135 ) بلفظ : " إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه " . و سنده صحيح على شرط مسلم . و أخرجه الأصبهاني أيضا في " الترغيب " ( 73 / 1 ) ثم روى له شاهدا من حديث أبي ابن كعب بسند لا بأس به في الشواهد .

Terjemah:

“Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah dan dia tidak meninggalkannya kecuali karena Allah melainkan Allah menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik untuknya dalam agamanya dan dunianya”.

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/61) mengatakan bahwa riwayat tersebut dengan lafal ini maudlu’. Dan sungguh aku mendengarnya dalam kata-kata yang diucapkan oleh sebagian orang-orang yang memiliki keutamaan dari penyiaran di Damaskus di bulan yang diberkahi ini, bulan Ramadlan. Abu Nu’aim telah mengeluarkannya dalam kitab “Hilyatul Auliya’” (2/196) dan Ad-Dailami meriwayatkan dari Abu Nu’aim (4/27-Algharaibul Multaqithah) dan As-Salafi dalam “Ath-Thuyuriyat” (200/2) dan Ibnu Asakir (3/208/2 dan 15/70/1) dari jalan Abdulllah bin Sa’d Ar-Raqi “Ibuku, Marwah binti Marwan telah menceritakan kepadaku (dia berkata) Ibuku, Atikah binti Bakar telah menceritakan kepadaku dari bapaknya (dia berkata), aku mendengar Az-Zuhri menceritakan dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar bahwasannya Rasulullah sas. Bersabda: lalu dia menyebutkannya. Dan Abu Nu’aim berkata sesudahnya: “Hadits yang gharib”. Dan kukatakan bahwa sanadnya maudlu’, karena selain Az-Zuhri mereka tidak tersebut dalam kitab-kitab hadits sedikitpun selain Abdullah bin Sa’d Ar-Raqi karena dia ma’ruf (dikenal), namun dengan kebohongan!

Al-Hafidh Adz-Dzahabi berkata dalam “Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal” dan Al-Hafidh Ahmad bin Hajar Al-‘Asqalni mengikutinya dalam kitab “Lisanul Mizan”, Ad-Daruquthni menganggapnya pembohong dan berkata: “Dia telah membikin-bikin hadits, Ahmad bin Abdan menganggapnya wahin (bingung). Hadits ini memiliki illat (cacat) yang lain yaitu kemajhulan Bakr, yaitu bin Muhammad. Dalam biografinya Ibnu Asakirpun telah menuliskannya tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil untuknya. Memang, hadits ini shahih tanpa perkataan di akhir “dalam agama dan dunianya”. Waki’ mengeluarkankannya dalam “Az-Zuhdi” (2/68/2) dan Ahmad (meriwayatkan) darinya (5/363) dan Al-Qudla’I dalam “Musnadus Syihab”(no.1135) dengan lafal “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla kecuali Allah menggantimu karenanya apa yang lebih baik darinya.” Sanadnya shahih menurut syarat Muslim. Al-Ashbahani mengeluarkannya juga dalam “At-Targhib” (73/1) kemudian meriwayatkan syahid dari hadits Ubay bin Ka’ab dengan sanad La ba`sa bihi (tidak bermasalah) dalam kitab “Asy-Syawahid”.

Hadits 4

4 - " الحديث فى المسجد يأكل الحسنات كما تأكل البهائم الحشيش " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 60 ) : لا أصل له .

أورده الغزالي في " الإحياء " ( 1 / 136 ) فقال مخرجه الحافظ العراقي : لم أقف له على أصل و بيض له الحافظ في " تخريج الكشاف " ( 73 / 95 و 130 / 176 ) . و قال عبد الوهاب بن تقى الدين السبكي في " طبقات الشافعية "

( 4 / 145 - 147 ) : لم أجد له إسنادا . و المشهور على الألسنة : " الكلام المباح في المسجد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب " و هو هو .

Terjemah:

“Ngobrol di dalam masjid itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana binatang-binatang ternak itu memakan rumput”.

Al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/60) mengatakan bahwa riwayat itu tidak ada asalnya. Al-Ghazali telah meriwayatkannya dalam “Al-Ihya” (1/136), lalu Al-Hafidh Al-Iraqi yang telah mengeluarkannya mengatakan: “Aku tidak tahu bahwa riwayat itu memiliki asal”. Sedangkan Al-Hafidh mengosongkannya dalam “Takhrijul Kasyaf” (73/95 dan 130/176). Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin As-Subki berkata dalam “Thabaqatusy Syafi’iyyah” (4/145-147): “Aku tidak mendapatkan sanadnya”. Dan yang sering diucapkan: “Omong-omong yang mubah di dalam masjid itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api itu memakan kayu bakar”. Dan itulah yang dimaksud.

Hadits 3

3 - " همة الرجال تزيل الجبال " .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 59 ) : ليس بحديث . قال الشيخ إسماعيل العجلونى في " كشف الخفاء " : لم أقف على أنه حديث ، لكن نقل بعضهم عن الشيخ أحمد الغزالي أنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " همة الرجال تقلع الجبال " فليراجع . قلت : قد راجعنا مظانه في كتب السنة فلم نجد له أصلا ، و إيراد الشيخ أحمد الغزالي له لا يثبته ، فليس هو من المحدثين ، و إنما هو مثل أخيه محمد من فقهاء

الصوفية ، و كم في كتاب أخيه " الإحياء " من أحاديث جزم بنسبتها إلى النبي صلى الله عليه وسلم و هي مما يقول الحافظ العراقي و غيره فيها : لا أصل له منها.

Terjemah ringkasan:

“Obsesi para lelaki itu dapat mengguncangkan gunung-gunung”

Al-Albani berkata dalam “Silsilatul Ahaditsidl Dla’ifah” (1/59): “Itu bukanlah sebuah hadits”. Syaikh Ismail Al-‘Ajaluni dalam “Kasyful Khifa`” mengatakan: “Aku tidak mengetahui bahwa itu adalah hadits, akan tetapi sebagian mereka menukil dari Syaikh Ahmad Al-Ghazali bahwa dia berkata: “Rasulullah sas. bersabda: “Obsesi para lelaki itu dapat menenggelamkan gunung-gunung”. Maka hendaklah ditilik kembali.

Aku berkata: “Kami sudah menilik kemungkinan-kemungkinannya dalam kitab sunan, dan kami belum mendapatkan asalnya. Sedangkan periwayatan hadis tersebut oleh Syaikh Ahmad Al-Ghazali tidak menjadikannya shahih, karena dia bukan dari kalangan muhadditsin. Dia hanya seperti saudaranya Muhammad dari kalangan fuqoha sufi. Berapa banyak dalam kitab saudaranya “Al-Ihya” yang telah ia tetapkan dengan penisbatan hadits-hadits tersebut kepada Nabi sas, sedangkan Al-Hafidh Al-‘Iraqi dan selainnya telah mengatakan bahwa hadits-hadits tersebut tidak ada asal baginya.

Hadits 2

2-" من لم تنهه صلاته عن الفحشاء و المنكر لم يزدد من الله إلا بعدا "

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 54 ) :باطل .

و هو مع اشتهاره على الألسنة لا يصح من قبل إسناده ، و لا من جهة متنه . أما إسناده فقد أخرجه الطبراني في " المعجم الكبير " ( 3 / 106 / 2 مخطوطة الظاهرية) و القضاعي في " مسند الشهاب " ( 43 / 2 ) و ابن أبي حاتم كما في " تفسير ابن كثير " ( 2 / 414 ) و " الكواكب الدراري " ( 83 / 2 / 1 ) من طريق ليث عن طاووس عن ابن عباس . و هذا إسناد ضعيف من أجل ليث هذا ـ و هو ابن أبي سليم ـ فإنه ضعيف ، قال الحافظ ابن حجر في ترجمته من " تقريب التهذيب " : صدوق اختلط أخيرا و لم يتميز حديثه فترك . و به أعله الهيثمي في " مجمع الزوائد " ( 1 / 134 ) . و قال شيخه الحافظ العراقي في " تخريج الإحياء " ( 1 / 143 ) : إسناده لين . قلت : و قد أخرجه الحافظ ابن جرير في تفسيره ( 20 / 92 ) من طريق أخرى عن ابن عباس موقوفا عليه من قوله ، و لعله الصواب و إن كان في سنده رجل لم يسم . و رواه الإمام أحمد في كتاب " الزهد " ( ص 159 ) و الطبراني في " المعجم الكبير " عن ابن مسعود موقوفا عليه بلفظ : " من لم تأمره الصلاة بالمعروف و تنهاه عن المنكر لم يزدد بها إلا بعدا " . و سنده صحيح كما قال الحافظ العراقي ، فرجع الحديث إلى أنه موقوف ، ثم رأيته في معجم ابن الأعرابي قال ( 193 / 1 ) ، أنبأنا عبد الله ـ يعني ابن أيوب المخرمي ـ أنبأنا يحيى بن أبي بكير عن إسرائيل عن إسماعيل عن الحسن قال : لما نزلت هذه الآية *( إن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر )* ( العنكبوت : 45) قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ... فذكره . و هذا مرسل ، و إسماعيل هو ابن مسلم ، فإن كان أبا محمد البصري فهو ثقة ، و إن كان أبا إسحاق المكي فهو ضعيف ، لكن قال الحافظ العراقي : رواه علي بن معبد في كتاب " الطاعة و المعصية " من حديث الحسن مرسلا بإسناد صحيح . قلت : يعني أن إسناده إلى الحسن صحيح ، و لا يلزم منه أن يكون الحديث صحيحا لما عرف من علم " مصطلح الحديث " أن الحديث المرسل من أقسام الحديث الضعيف عند جمهور علماء الحديث ، و لا سيما إذا كان من مرسل الحسن و هو البصري ، قال ابن سعد في ترجمته : كان عالما جامعا رفيعا ثقة ... ما أرسله فليس بحجة . و حتى إنه لو فرض أن الحسن وصل الحديث و أسنده و لم يصرح بالتحديث أو بسماعه من الذي أسنده إليه كما لو قال : عن سمرة أو عن أبي هريرة لم يكن حديثه حجة ، فكيف لو أرسله كما في هذا الحديث ؟ ! قال الحافظ الذهبي في " ميزان الاعتدال " : كان الحسن كثير التدليس ، فإذا قال في حديث عن فلان ضعف احتجاجه و لا سيما عمن قيل : إنه لم يسمع منهم كأبي هريرة و نحوه ، فعدوا ما كان له عن أبي هريرة في جملة المنقطع . على أنه قد ورد الحديث عن الحسن من قوله أيضا لم ينسبه إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، كذلك أخرجه الإمام أحمد في " الزهد " ( ص 264 ) و إسناده صحيح ، و كذلك رواه ابن جرير ( 20 / 92 ) من طرق عنه و هو الصواب . ثم وجدت الحديث في " مسند الشهاب " ( 43 / 2 ) من طريق مقدام بن داود قال : أنبأنا علي بن محمد بن معبد بسنده المشار إليه آنفا عن الحسن مرفوعا ، و مقدام هذا قال النسائي : ليس بثقة ، فإن كان رواه غيره عن علي بن معبد و كان ثقة فالسند صحيح مرسلا كما سبق عن العراقي و إلا فلا يصح . و جملة القول أن الحديث لا يصح إسناده إلى النبي صلى الله عليه وسلم و إنما صح من قول ابن مسعود و الحسن البصري ، و روي عن ابن عباس . و لهذا لم يذكره شيخ الإسلام ابن تيمية في " كتاب الإيمان " ( ص 12 ) إلا موقوفا على ابن مسعود و ابن عباس رضي الله عنهما . و قال ابن عروة في " الكواكب " : إنه الأصح . ثم رأيت الحافظ ابن كثير قال بعد أن ساق الحديث عن عمران بن حصين و ابن عباس و ابن مسعود و الحسن مرفوعا : و الأصح في هذا كله الموقوفات عن ابن مسعود و ابن عباس و الحسن و قتادة و الأعمش و غيرهم . قلت : و سيأتي حديث عمران في المائة العاشرة إن شاء الله تعالى و هو بهذا اللفظ إلا أنه قال : " فلا صلاة له " بدل " لم يزدد عن الله إلا بعدا " و هو منكر أيضا كما سيأتي بيانه هناك بإذن الله تعالى فانظره برقم ( 985 ) . و أما متن الحديث فإنه لا يصح ، لأن ظاهره يشمل من صلى صلاة بشروطها و أركانها بحيث أن الشرع يحكم عليها بالصحة و إن كان هذا المصلي لا يزال يرتكب بعض المعاصي ، فكيف يكون بسببها لا يزداد بهذه الصلاة إلا بعدا ؟ ! هذا مما لا يعقل و لا تشهد له الشريعة ، و لهذا تأوله شيخ الإسلام ابن تيمية بقوله : و قوله " لم يزدد إلا بعدا " إذا كان ما ترك من الواجب منها أعظم مما فعله ، أبعده ترك الواجب الأكثر من الله أكثر مما قربه فعل الواجب الأقل . و هذا بعيد عندي ، لأن ترك الواجب الأعظم منها معناه ترك بعض ما لا تصح الصلاة إلا به كالشروط و الأركان ، و حينئذ فليس له صلاة شرعا ، و لا يبدو أن هذه الصلاة هي المرادة في الحديث المرفوع و الموقوف ، بل المراد الصلاة الصحيحة التي لم تثمر ثمرتها التي ذكرها الله تعالى في قوله : *( إن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر )* ( العنكبوت : 45 ) و أكدها رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قيل له : إن فلانا يصلي الليل كله فإذا أصبح سرق ! فقال : " سينهاه ما تقول أو قال : ستمنعه صلاته " . رواه أحمد و البزار و الطحاوي في " مشكل الآثار " ( 2 / 430 ) و البغوي في حديث علي بن الجعد ( 9 / 97 / 1 ) و أبو بكر الكلاباذي في " مفتاح معاني الآثار " (31 / 1 / 69 / 1 ) بإسناد صحيح من حديث أبي هريرة . فأنت ترى أن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر أن هذا الرجل سينتهي عن السرقة بسبب صلاته - إذا كانت على الوجه الأكمل طبعا كالخشوع فيها و التدبر في قراءتها - و لم يقل : إنه " لا يزداد بها إلا بعدا " مع أنه لما ينته عن السرقة. و لذلك قال عبد الحق الإشبيلي في " التهجد " ( ق 24 / 1 ) : يريد عليه السلام أن المصلي على الحقيقة المحافظ على صلاته الملازم لها تنهاه صلاته عن ارتكاب المحارم و الوقوع في المحارم . فثبت بما تقدم ضعف الحديث سندا و متنا والله أعلم . ثم رأيت الشيخ أحمد بن محمد عز الدين بن عبد السلام نقل أثر ابن عباس هذا في كتابه " النصيحة بما أبدته القريحة " ( ق 32 / 1 ) عن تفسير الجاربردي و قال : و مثل هذا ينبغي أن يحمل على التهديد لما تقرر أن ذلك ليس من الأركان و الشرائط ثم استدل على ذلك بالحديث المتقدم : " ستمنعه صلاته " و استصوب الشيخ أحمد كلام الجاربردي هذا و قال : لا يصح حمله على ظاهره ، لأن ظاهره معارض بما ثبت في الأحاديث الصحيحة المتقدمة من أن الصلاة مكفرة للذنوب ، فكيف تكون مكفرة و يزداد بها بعدا ؟ ! هذا مما لا يعقل ! ثم قال : قلت : و حمل الحديث على المبالغة و التهديد ممكن على اعتبار أنه موقوف على ابن عباس أو غيره و أما على اعتباره من كلامه صلى الله عليه وسلم فهو بعيد عندي والله أعلم . قال : و يشهد لذلك ما ثبت في البخاري أن رجلا أصاب من امرأة قبلة فذكر للنبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى *( إن الحسنات يذهبن السيئات )* . ثم رأيت شيخ الإسلام ابن تيمية قال في بعض فتاواه : هذا الحديث ليس بثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم لكن الصلاة تنهى عن الفحشاء و المنكر كما ذكر الله في كتابه ، و بكل حال فالصلاة لا تزيد صاحبها بعدا ، بل الذي يصلي خير من الذي لا يصلي و أقرب إلى الله منه و إن كان فاسقا . قلت : فكأنه يشير إلى تضعيف الحديث من حيث معناه أيضا و هو الحق و كلامه المذكور رأيته في مخطوط محفوظ في الظاهرية ( فقه حنبلى 3 / 12 / 1 - 2 ) و قد نقل الذهبي في " الميزان " ( 3 / 293 ) عن ابن الجنيد أنه قال في هذا الحديث : كذب و زور .

Terjemah ringkasan:

“Barangsiapa yang shalatnya tidak bisa menahannya dari perbuatan keji dan munkar, maka Allah tidak akan menambahi kecuali penjauhan”.

Al-Albani dalam Silsilatul Ahaditsidl Dlaifah (1/54) mengatakan bahwa hadits ini bathil. Walaupun hadits ini biasa diucapkan, namun dari sedi sanad dan matan hadits ini tidak shahih. Adapun sanadnya, maka Ath-Thabarani telah mengeluarkannya dalam “Al-Mu’jamul Kabir” (3/106/2 makhthuthatut Dlahiriyyah) dan Al-Qudla’i mengeluarkannya dalam “Musnadusy Syihab” (43/2) dan Ibnu Abi Hatim juga mengeluarkannya sebagaimana dalam “Tafsir Ibnu Katsir” (2/414) dan kitab “Al-Kawakibud Durari” (83/2/1) dari Laits dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas. Ini adalah sanad yang dlaif karena Laits—dia adalah Laits bin Abi Sulaim—dia perawi dlaif. Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam biografi Laits pada kitabnya “Taqribut Tahdzib” mengatakan bahwa dia perawi shaduq, tercampur hafalannya di akhir (umurnya) dan haditsnya belum bisa dipilah-pilah, maka haditsnyapun ditinggalkan.....

Ketika Cinta Harus Menentukan (2-Selesai)

“Menurut Dina, lelaki yang layak untuk Dina jadikan suami yang gimana sih?” sambil kuhirup teh suguhannya, aku coba tanya.

“Assalamu’alaikum”, teman serumah Dina tersenyum kepada kami. “Wa’alaikumsalam, baru pulang Tin?”

“Ya, Mas. Waduh, capek juga nih hari. Ada komplain dari perusahaan rekanan Mas. Katanya produk kami banyak yang gagal.” Tanpa ditanya, teman serumah Dina itu langsung duduk disamping Dina. “Din, tehmu kuminum ya...” langsung dia dekatkan cangkir ke mulutnya.

“Titin...”

“Ya Din?”

“Aku lagi serius nih.”

“Ups, sorry...sorry... Ma’af ya Mas Habib. Nggak jadi mampir deh nih cangkir. Lagian tumben sore-sore main ke sini, Mas. Yuk....Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam”

“Anu, Kak. Susah njawab pertanyaan Kak Habib itu. Dina sih nggak macam-macam kok. Nggak banyak syarat, nggak milih-milih. Asal bisa ngajarin Dina, bisa mimpin Dina. Itu cukup buat Dina kok.”

“Apa nurut Dina. Habib ini cukup memenuhi syarat untuk itu?”

“Ya... sepengetahuan Dina sih cukup, Kak. Kak Habib bisa ngaji. Baca Al Qur’an, ngerti tafsir, ngerti kitab hadits.”

“Ah, nggak pernah mondok juga. Ngerti tapi asal aja.”

“Dan selama ini Kak Habib lumayan terkenal di perusahaan. Kemarin tuh benar kan Kak, waktu ada pencalonan pengurus masjid yang baru dibangun di PT Kak Habib kerja itu?”

“Kenapa memangnya?”

“Kak Habib dicalonkan jadi pengurus bidang kerohanian karyawan, kan?”

“Ah itu kan maunya segelintir orang saja. Yang lain nggak begitu kok. Cuma daripada nggak ada saja kali.”

“Tapi itu cukup jadi bukti untuk Dina, Kak.”

“Hanya itu?”

“Iya, Kak.”

“Baik. Sekarang aku mau tanya lagi. Nggak apa-apa kan?”

“Silakan, Kak.”

“Orang tuamu sudah tahu keinginan kamu ini. Dan apakah mereka sudah setuju dengan pilihan kamu juga?”

“Ya, itulah Kak. Saya belum memberitahukan hal ini kepada mereka. Selain jauh, orang tua Dina masih agak kolot kalau soal jodoh. Dina kadang khawatir kalau-kalau mereka nggak setuju.”

“Nah. Itu masalah prinsip juga, Dina.”

“Kamu sudah ngerti kan, kalau perempuan itu dalam kekuasaan walinya. Orang tua Dina adalah orang yang paling berhak atas perjodohan Dina. Memang sih, iya atau nggaknya terserah Dina juga. Tapi kalau orang tua nggak setuju, kita mau apa. Kalau soal kolot, sih...itu tergantung dari mana kita melihatnya. Setahuku, orang Padang itu masih kuat pengaruh Islam dalam adatnya. Apalagi orang tua Dina, kelihatan dari cara Dina membawa diri kok. Dan nggak ada orang tua yang pengin menyusahkan anak-anaknya.”

“Juga, belum nemu nih gadis Padang menikah sama orang Jawa. Kalau sebaliknya sudah banyak aku lihat. Ini nggak cukup jadi masalah bagi Dina? Memang sih, beda suku itu bukan perkara penting. Tapi kadang jadi ganjalan juga kan.”

Dina diam.

Kulempar pandanganku keluar. Kulihat di jalan ada seorang ibu menawarkan makanan kecil. Membantu suami mungkin. Atau malah jadi punggung keluarga. Konon sekarang ini banyak laki-laki jadi pengangguran. Katanya banyak perusahaan yang lebih senang mempekerjakan kaum perempuan ketimbang laki-laki.

“Perempuan lebih enak, Mas.” temanku yang personalia pernah bilang begitu. “Nggak bakalan berani nuntut macem-macem. Coba laki-laki, banyak maunya. Yang uang kesehatan lah, uang kesejahteraan lah, upah nggak cukup lah.”

“Ini orang kayak bos saja ngomongnya.” batinku.

“Dina...”

“I..iya Kak.”

“Sekali lagi. Bukan apa-apa. Tapi tolong dipikir lagi omonganku tadi.”

“Bagiku sih, sederhana saja.”

“Memang banyak orang menyangka aku ini selektif. Terlalu selektif bahkan. Itu karena mereka nggak tahu aja. Alhamdulillah, aku berhasil tidak pacaran selama ini. Karena memang bagiku, lebih bersih hati kita kalau mau membina keluarga tanpa proses pacaran.”

“Lagian orang pacaran itu kan banyak gombalnya aja.”

“Belum lagi kalau kita ngeliat hadits nabi soal hubungan laki-laki dengan perempuan. Yang jelas bahaya kan.”

“Aku hargai sikap Dina untuk hal ini. Aku hormati.”

“Tapi aku sudah punya...”

“Kak Habib sudah ada calon?” sela Dina.

“Bukan.”

“Tapi aku sudah punya tekad. Bahwa aku tidak memilih sendiri siapa istriku nanti....”

“Ya.... Aku takut.”

“Aku takut salah memilih calon istriku. Takut salah pilih.”

“Bisa saja aku memilih seorang calon istri karena menurutku dia baik untukku. Tapi itu terlalu subyektif menurutku. Jangan-jangan aku mencintai seseorang padahal dia nggak baik untukku. Tapi sebaliknya, aku nggak suka seseorang padahal dia baik untukku.”

“Jadi untuk satu hal ini, aku coba kekang rasa hatiku sendiri. Aku laki-laki biasa. Laki-laki normal. Punya rasa suka kepada perempuan cantik. Apalagi kalau dia muslimah yang berjilbab lebar macam Dina juga. Rasanya hati ini seperti menemukan kesejukan dan kebahagiaan di sana.”

“Tapi aku ini laki-laki yang belum pengalaman soal istri. Sama seperti bujangan-bujangan di luar sana. Jadi, aku harus serahkan urusan satu ini kepada orang yang sudah pengalaman.”

“Ya. Aku sudah serahkan perjodohanku ini kepada guruku, ustadzku. Beliau yang selama ini mengajariku ilmu agama. Beliau pula yang selama ini mengenalku sedalam-dalamnya. Beliau memahami sifatku, memahami karakterku. Beliau tahu siapa yang kiranya pantas untuk mendampingiku. Sesudah kuasa Allah, beliaulah yang layak mencarikanku pasangan bagiku.”

“Iya, Kak. Dina bisa mengerti perasaan Kak Habib. Dan Dina juga sangat berharap seperti yang Kak Habib harapkan. Ma’afkan Dina ya Kak.”

“Nggak Dina. Kamu nggak salah apapun dalam hal ini. Bahkan aku berterima kasih kepadamu. Karena kamu sudah berterus terang dalam soal ini.”

“Alhamdulillah. Sepertinya kita sudah bisa saling mengerti dalam persoalan ini. Mudah-mudahan Allah pilihkan suami terbaik untuk Dina nanti. Dan tolong do’a Dina untukku, mudah-mudahan Allah berikan yang terbaik buatku juga, ya....”

“Iya, Kak.”

“Kak. Terima kasih ya.... Kak Habib bisa mengerti saya. Meski Dina nggak bisa berharap lagi, tapi Dina sudah lega.”

“Eh...tehnya sampai lupa. Diminum, Kak.”

“O..iya.”

Kembali kuminum teh yang tinggal sedikit itu. Manis....

(Ya Allah, jadikan rasa cintaku ini, sebagai rasa cinta yang bisa menuntunku menentukan hal yang terbaik untukku. Ya Allah. Jadikan rasa cintaku ini sebagai jalan penghambaanku kepada-Mu)

Ketika Cinta Harus Menentukan (1)

“Kak, kalau longgar saya ingin ketemu. Ada perkara penting yang saya mau sampaikan.” Ucapnya sore itu sepulang dari kerja. Kami memang seperjalanan, namun jarang kami jalan bersama seperti sore itu.

“Ada apa ya, kok kelihatan serius banget gitu,” sahutku agak heran.

“Tidak penting”. Sahutnya cepat-cepat.

Kendaraan lalu lalang sore itu. Biasalah saatnya orang pulang dari kantor mereka. Orang-orang di Bekasi, kota tempatku tinggal ini memang pergi pagi pulang sore. Demikian setiap hari mereka lakukan, termasuk aku.

Di perempatan jalan itu banyak tukang ojeg menunggu calon penumpang. Sebagian besar aku kenal mereka. Hampir tiap hari aku memanfaatkan jasa mereka. Ada yang menjadi sahabatku juga akhirnya. Tak apalah, mereka tidak seburuk yang disangka orang. Keras, kasar, tidak berpendidikan. Ada juga kok tukang ojeg yang halus tutur katanya, sopan, bisa menghormati penumpangnya. Bahkan kulihat sebagian mereka ada yang pilih-pilih penumpang. Nggak sembarang mau ngangkut penumpang perempuan. Biasanya mereka sarankan naik becak. Memang lebih mahal sedikit, namun lebih aman, kata mereka. Bagus juga ya....

Mereka melambaikan tangan kepadaku. Kubalas dengan lambaian pula. “Assalamu’alaikum,“ seru beberapa dari mereka. ”Wa’alaikumsalam,” balasku.” Nggak ngojeg dulu, Mas. Saya mau jalan kaki bareng teman ni,”kataku.

“Pacar ya Mas.”

“Hus, bukan. Hanya teman kok. Kayak nggak kenal Habib saja Mas ini.” Candaku serius kepada mereka.

“Iya ni, mas Habib ini sudah lama tinggal di sini kok nggak nemu-nemu ya. Jangan terlalu selektif Mas.” Seloroh mas Udin, seorang dari mereka yang cukup dekat denganku.

“Emang mangga jatuh apa, kok nemu”.

Dina tersenyum. Manis juga gadis Padang ini. Perawakannya memang mungil, imut-imut begitulah. Tapi semangatnya itu lho. Ruarrrr biasa. Itu menurutku. Semangat keluarga, katanya suatu saat padaku.

“Dina, ngapain jauh-jauh merantau ke Jakarta begini?” tanyaku saat kami beberapa saat kenalan. Awalnya sih cuma karena kami ketemu di jalan. Aku mau makan di warung makan Padang seberang jalan, dia baru keluar dari sana. “Iya Kak. Kebiasaan keluarga nih. Merantau untuk cari pengalaman hidup.” Aku nggak tahu apa memang itu alasan orang Padang merantau. Tapi rata-rata mereka sukses di perantauan. Aku sendiri orang Jawa asli. Meski kultur Jawa tidak terlalu membentukku.

“Baik. Kita bicara di sini saja ya” pintaku saat kami sudah sampai dirumahnya. Ya, aku pilih tempatnya. Rumah kontrakan itu banyak penghuninya. Paling tidak lebih aman. Kalau di rumah kontrakanku, terlalu sepi untuk kami ngobrol. Bahaya.... Akhirnya kami ngobrol di teras rumahnya. Rumah kami memang tidak jauh, hanya beberapa rumah saja yang memisahkannya.

“Ada hal apa Dina, sampai harus begini caranya?” tanyaku sambil menyeruput teh celup buatannya. Manis...

“Anu Kak.” Ragu-ragu dia memulai pembicaraan.

“Saya bingung mau memulai.”

“Ya sudah, saya menunggu. Tak apa. Jangan tergesa kalau masih bingung begitu.”

“Anu Kak. Saya pengin nikah.” Bicaranya agak kaku.

“Ya nikah aja. Memangnya kenapa kalau mau nikah. Kok kelihatan bingung gitu. Asyik lagi orang menikah. Kayaknya lho ya. Orang bujangan juga ini.” Candaku berusaha membuang kekakuannya.

“Iya nggak kenapa-napa. Tapi masalahnya...”

“Ada masalah apa?” Aku nggak berani nebak-nebak. Takut salah. Nggak menyelesaikan masalah.

“Laki-lakinya mau pa nggak....”

“Lho. Gimana Dina ini. Mau nikah kok malah jadi lucu begitu. Mau nikah kan berarti sudah sama-sama mau dan merasa cocok to....”

“Iya sih.....”

Aku menunggu. Dina masih diam. Annida di atas meja dibukanya. Tak ada yang dia baca. Kuminum lagi teh celup itu. Masih manis.

“Dina pengin jadi istri Kak Habib”

Tersedak aku dengan teh ku. Manis tapi menyakitkan. Hidungku panas.

“Ma’af Kak. Malah jadi begini....”

Menetes air matanya. Aku bingung. Aku paling bingung melihat perempuan menangis seperti itu.

Kutaruh cangkir teh. Aku berdiri. Kudekati pohon jambu di halaman rumah itu. Daunnya meranggas. Sedang musim ulat. Mereka menghabisi daun tanpa merasa bersalah. Mereka penuhi hasrat mereka tanpa peduli pohon itu meminta agar menyisakan daunnya demi bunga yang sedang mereka retas.

“Anu Kak. Mungkin Dina nggak pantas ya jadi istri Kak Habib. Kurang muslimah ya....”

“Mana kemuslimahannya kalau seorang gadis tinggal di rantau jauh orang tua. Jauh saudara. Nggak ada mahramnya. Kerja di perusahaan asing yang kafir lagi.”

“Nggak. Nggak. Jangan berprasangka seperti itu, Dina.” sergahku.

“Atau Dina ini perempuan nggak punya harga diri, Kak. Perempuan macam apa sih kok ngomong begitu kepada lelaki.”

“Nggak. Nggak. Nggak benar juga itu....” sahutku lagi.

“Begini Dina. Yang pertama, aku nggak mempermasalahkanmu dengan inisiatifmu itu. Nggak apa-apa kok perempuan berinisiatif seperti itu. Dulu ada shohabiyyah yang berbuat begitu kepada Rasulullah saw. Dan ternyata beliau tidak mencela perbuatan perempuan itu. Kalau memang dia melihat kebaikan disana, kenapa tidak?”

“Lalu, tentang keislaman seseorang, itu urusan Allah. Nggak berhak orang-orang menilai kadar keislaman orang lain.”

“Ya memang sih kadang perempuan terfitnah dengan kondisi zaman ini. Sehingga mereka memposisikan dirinya dalam kerawanan syar’i. Membahayakan dirinya pada situasi yang tidak aman secara fisik maupun fitrah keperempuanannya. Sehingga harus pergi keluar rumah, bahkan luar kota atau ke luar negeri sekalian. Hanya sekedar mencari pengalaman, atau mengais rejeki. Atau gengsi malah.”

“Tapi banyak juga kok, mereka yang mau menyadari keadaannya lalu mereka menyelamatkan dirinya. Ada yang pulang kampung, ada yang menikah dengan laki-laki beriman yang mau menerimanya. Dan aku lihat Dina masih bisa menyadari hal ini kok.”

“Jadi... Bagaimana Kak?”

“Begini Dina.”

“Ya Kak?”

.....................................(bersambung insya Allah)


Isteri Hebat

“Sayang, gimana pendapatmu kalau abang mau nikah lagi,” Zakiyyah yang sedang melipat kain, terdiam seketika. Mungkin terkejut. Adakah pendengarannya kian kabur lantaran usianya yang kian beranjak. Adakah pertanyaan tadi hanya dialog di TV, memang TV baru itupun sedang menyala. Tapi, ah bukan. TV sedang menayangkan iklan Pilkada, mustahil sudah ada klip baru iklan Pilkada? Dia menghela nafas panjang. Dia memandang sekilas wajah Habib suaminya, kemudian tersenyum. Meletakkan kain yang telah siap dilipat di tepi, bangun lantas menuju ke dapur. Langkahnya diatur tenang. Segelas air dingin diteguk perlahan. Kemudian dia ke kamar Nadya, Hasna. Rutin hariannya, mencium puteri-puterinya sebelum dia masuk tidur. Dahulu, semasa puterinya masih kecil, rutin itu dilakukan dengan suaminya. Kini, anak-anak kian beranjak remaja.

Kemudian, dia menjenguk kamar puteranya,Shofwan, Zain, dan Ukasya. Lalu ke kamar sang bayi, Miqdad. Terakhir dia kembali kepada suaminya. Habib hanya diam. Dia amat mengenali isterinya. Jodoh yang diatur ustadznya hampir 14 tahun yang lalu menghadiahkan dia sebuah keluarga yang bahagia. Zakiyyah adalah ikon isteri sholihah. Namun, kehadiran Shofiyya, gadis genit yang menjabat sekretaris di tempat kerjanya benar-benar membuatnya lemah.

“Kau mampu Bib, dengan penghasilanmu, aku rasa kau mampu untuk menghidupi dua keluarga,” dorong si Ihsan, temannya yang seorang dokter menguatkan lagi alasan dia untuk bicara dengan Zakiyyah. “ Abang Habib, Sofi ikhlas. Sofi sanggup bermadu jika itu yang ditakdirkan. Bimbinglah Sofi, Sofi perlukan seseorang yang mampu memimpin Sofi,” masih terngiang-ngiang bicara lembut Sofi.

Akhir-akhir ini, panas rasanya punggung dia di rumah. Pagi-pagi, selesai solat subuh, cepat-cepat dia bersiap untuk ke kantor. Tidak seperti biasanya, dia tidak sarapan bersama isteri dan anak-anak. Sungguh, bayangan Sofi gadis luar kota itu benar-benar menjerat hatinya.

“Abang , Zakiyyah setuju dengan niat Abang. Tapi, Zakiyyah ingin ketemu dengan wanita tu,” Lembut dan tenang sayup-sayup suara isterinya. Dia tahu, Zakiyyah bukan seorang yang emosional. Zakiyyah terlalu sempurna, baik, tetapi.... ahhhh hatinya kini sedang menggilai wanita yang jauh lebih muda itu. “Bawa dia ke sini, tinggalkan dia bersama Zakiyyah selama 1 hari saja, boleh?” susah benar permintaan isterinya. Hendak diapakan tambatan hatinya itu? Namun, tanpa sadar dia menganguk, tanda setuju. Sebab, dia yakin isterinya tidak akan melakukan perkara yang bukan-bukan.

Dan hakikatnya dia seharusnya bersyukur. Sangat bersyukur. Kalaulah isterinya itu perempuan lain, alamatnya perang dunia meletus atau piring terbang berseliweran di rumahnyalah jawabnya. Melayanglah cangkir dan nampan kesukaannya. Ehhh, itu dulu. Zaman sekarang ni, isteri-isteri lebih bijak dan lembut. Teringat dia kisah seorang tentara yang disiram air keras oleh istrinya, gara-gara menyampaikan keinginan untuk menambah anggota keluarga satu lagi. Cacat seumur hidup diterima sebagai hadiah sebuah perkawinan yang tidak sempat dilangsungkan. Dan dia, hanya mendapat senyuman dari Zakiyyah.

“Apa, Sofi harus ketemu dengan isteri Abang,” bulat mata Sofi yang berwarna hitam kelam itu.


“Kak Zakiyyah yang minta,” masih lembut dia membujuk Sofi.

“Baik, tapi dia mau apakan Sofi?”

“Takutlah Sofi, lengah sedikit, dia bunuh Sofi!”

Terkejut Habib.

“Percayalah Sofi, Zakiyyah bukan macam itu orangnya. Abang sudah lama hidup dengannya. Abang faham,” Shofiyya mengalih pandangannya. Mahu apakah bakal madunya berjumpa dengannya? Dia sering mendengar berbagai cerita isteri pertama menyiksa isteri kedua. Heh, sekarang Shofiyya lah orangnya. Jangan haraplah jika mau menyiksa aku. Desis hati kecil Shofiyya.

......

Hari ini genap seminggu Shofiyya ambil cuti. Seminggu jugalah dia merindu dendam padanya. Berbagai jalan dicoba untuk menghubungi Shofiyya, namun tidak berhasil juga.

Teman serumah mengatakan mereka sendiri tidak tahu ke mana Shofiyya pergi. Genap seminggu juga peristiwa dia menghantar Shofiyya untuk dipertemukan dengan Zakiyyah. Sedangkan dia diminta oleh Zakiyyah bermunajat di Masjid dekat rumahnya. Di masjid itu, hatinya benar-benar terusik. Sekian lamanya dia tidak menyibukkan dirinya dengan aktifitas keagamaan di masjid itu.

Dulu, sebelum dia mengenal Shofiyya, setiap malam dia akan bersama dengan Zakiyyah serta anak-anaknya, sholat berjamaah di masjid. Kemudian menghadiri majelis ta’lim. Membaca Al Qur’an secara bergantian adalah kesukaannya. Namun, lenggok Shofiyya melalaikannya. Harum aroma Shofiyya memudarkan bacaannya. Hatinya benar-benar sunyi. Sunyi dari tasbih, tahmid dan takbir yang sering dia baca setiap selesai sholat. Seharian di Masjid, dia coba mencari dirinya, jati diri Habib yang dulu. Habib anak Imam Masjid Al Furqon. Habib yang asyik dengan berdzikir. Habib yang asyik dengan majelis ta’lim. Basah pipinya.

.......


Hatinya masih tertanya-tanya, apakah yang telah terjadi pada hari itu. Zakiyyah menunaikan tanggungjawabnya seperti biasa. Tidak berubah layanan Zakiyyah kepadanya. Mulutnya seolah-olah terkunci untuk bertanya tentang calon madunya. Tit tit... tit tit....sms menyela masuk ke inbox telepon mejanya.

“Sofi minta maaf. Sofi bukan pilihan terbaik untk Abang jadikan isteri. Sofi tidak sehebat kak Zakiyyah. Sofi perlu jadikan diri Sofi sehebat kak Zakiyyah untuk layak bersama Abang,” Dibawah telepon meja, ada sampul besar terselip di sana.


Kepada:
Abang Habib,
Suami yang tersayang...

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang,

Salam sejahtera buat suami yang tercinta, semoga ridloNya senantiasa mengiringi jejak langkahmu.

Abang yang terkasih,
Genap seminggu Zakiyyah bersama Shofiyya. Terima kasih karena Abang membawakan Zakiyyah seorang calon madu yang begitu cantik. Di sini Zakiyyah kemukakan penilaian Zakiyyah.

1. Dengan ukuran badan layaknya model, dia memang mengalahkan Zakiyyah yang sudah tidak langsing lagi. Baju-bajunya memang modis dan serasi sesuai zaman. Tapi, Zakiyyah sayangkan Abang. Zakiyyah tak sanggup Abang diseret ke neraka karena menanggung dosa. Sedangkan dosa Abang sendiri pun, masih belum terjawab di akhirat sana , apalagi Abang hendak memikul dosa org lain. Zakiyyah sayangkan Abang...

2. Zakiyyah mengajak dia memasak. Memang pandai dia masak, apalagi masakan barat atau oriental. Tapi, Zakiyyah sayangkan Abang. Zakiyyah tahu, selera Abang hanya pada lauk pauk kampung macam telur dadar atau tahu goreng, sayur lodeh, sayur nangka muda, atau yang seperti itu saja. Tapi tak tahulah Zakiyyah kalau-kalau selera Abang sudah berubah. Tapi, Zakiyyah masih ingat, masa kita sekeluarga singgah di sebuah fast food restaurant, Abang tinggalkan semua makanan barat itu. Meski Abang masih maukan sea food di sana. Lagipula, anak-anak kita semuanya mengikut selera ayah mereka. Kasihan nanti, tak mau makan pula anak-anak kita. Zakiyyah sayangkan Abang...

3. Zakiyyah mengajak dia sholat berjama’ah. Kacau keadaan dibuatnya. Zakiyyah minta dia jadi imam. Ya mesti begitu lah, nanti dia akan menjadi ibu pada anak-anak Abang yang lahir, jadinya Zakiyyah harapkan dia mampu untuk mengajar anak- anak Abang nanti untuk menjadi imam yang beriman. Tapi, kalau dia sendiri pun kalang kabut memakai kerudung... Zakiyyah sayangkan Abang...

Abang,

Cukuplah rasanya penilaian Zakiyyah. Kalau diungkap satu persatu, Zakiyyah tak mampu. Abang lebih memahaminya. Ini penilaian selama 1 hari, Abang mungkin dapat membuat penilaian yang jauh lebih baik karena Abang mengenalinya lebih dari Zakiyyah mengenalinya.

Abang yang Zakiyyah cinta,

Di dalam sampul ini ada surat persetujuan berpoligami, karena di negeri ini mengharuskan begitu. Telah siap Zakiyyah tandatangani. Juga selembar tiket penerbangan Abang ke Bandung. Jika munajat Abang di Masjid mengiayakan tindakan Abang ini, ambillah surat ini, isi dan pergilah kepada Shofiyya. Oh ya, lupa mau bilang, Shofiyya telah berada di Bandung. Menunggu Abang... Zakiyyah sayangkan Abang... Tetapi jika Abang merasakan Shofiyya masih belum cukup hebat untuk dijadikan isteri Abang, pergilah cari wanita yang sebanding dengan Zakiyyah...Zakiyyah sayangkan Abang.

Tetapi, jika Abang merasakan Zakiyyah adalah isteri yang hebat untuk Abang.. tolonglah bukakan pintu kamar ini. Zakiyyah bawakan sarapan kegemaran Abang, nasi telur dadar... masakan Zakiyyah sendiri.

Salam sayang,

Zakiyyah Ummah binti Ma’rifan

Habib tertegun. Terkesiap hatinya.

Dia langkahkan kakinya.Tangannya lantas membuka pintu kamarnya. Di situ berdiri Zakiyyah Ummah bersama-sama hidangan sarapan pagi kegemarannya. Dia tersenyum!

Benar, tiada isteri sehebat Zakiyyah isterinya!!!!!

Murottal dan Orang Mati

Pagi-pagi,

Ketika mendengar lantunan Al Ghomidi sambil ngecek email, aku teringat kisah lamaku....

Kira-kira empat tahun lalu ketika kami baru pindahan ke kampungku yang sekarang ini, ada hal lucu yang tidak lucu....

Kami memang terbiasa memperdengarkan lantunan murottal di rumah kami. Baik dari radio maupun dari pita kaset atau dari cd. Dan sejak kami punya komputer, medianya pun berganti. Maunya sih...agar telinga ini, hati ini, tidak mudah tercemar dengan suara-suara aneh dari luar. Maklumlah kita hidup di negeri yang ber-bhinneka tunggal ika, jadi macem-macem pula kan. Tak apalah, ini urusan dalam negeri keluargaku, tak pula aku mengurus keluarga orang lain, ya nggak...

Nah di suatu pagi ketika aku baru saja menyalakan komputer dan windows media player ku mengalunkan Al Ghomidi dan aku mulai beraktifitas seperti biasa terjadilah apa yang memang seharusnya terjadi....

Ketika aku menyapu halaman rumah, ada bapak tetangga rumah yang mendekatiku. Bertanyalah dia padaku, Mas...siapa sih yang meninggal dunia itu? Kenapa Pak? Tanyaku padanya. Itu lho, kok saya mendengar ada suara orang membaca Qur’an, tapi agak samar-samar gitu, katanya melanjutkan. Ooo itu to Pak, itu suara bacaan dari rumah saya kok. Kebetulan pintu agak terbuka jadi suaranya bocor sampai ke luar sini. Bukannya ada orang mati Pak, jawabku heran.

Bujangan, Blog, Keluarga

Di blog orang-orang, banyak yang menulis artikel tentang rumah tangga, keluarga dan romantikanya. Baik penulisnya sudah berkeluarga atau yang masih hidup membujang, baik laki-laki ataupun perempuan. Asyik kayaknya ya.....ngomongin perkara begituan.....he...he...he.... Kalau yang sudah berkeluarga sih mungkin lebih mantap kali ya....soalnya sudah ada pengalaman baik senang maupun susahnya, baik benar maupun salahnya. Tapi yang bujangan bisa cerita banyak dari mana ya sumbernya.... apa cuman ngebayangin gitu aja, enaknya berumah tangga, atau malah seramnya berumah tangga, atau dapat cerita dari temannya yang sudah duluan menikah, atau dapat ngintip buku harian orang tua mereka, atau dari mana lagi ya...... Ya ada sih yang terbatas masalah teori dan idealitas macem di nash Qur’an maupun Hadits, tapi kan itu baru sebatas teori.....sehingga bahan artikel juga jadi terbatas gitu (terbatas tidak selalu kurang lho, kadang keterbatasan itu karena mengutamakan kebenaran kok). Tapi ngeliat artikel yang panjang dan lebar gitu, apalagi yang sampe jadi buku entah novel, entah cerita bersambung atau yang lain lagi padahal penulisnya masih bujangan, wuih.....kok bisa detail gitu ya....

Telepon Maut

PT Telkom (Tbk) Kandatel Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian untuk melacak isu terkait dengan “ilmu hitam” yang disebarkan melalui jaringan telepon seluler (HP) yang meresahkan masyarakat.

“Tidak benar isu telepon `ilmu hitam` yang menyebabkan adanya kematian. Saya saat ini sedang berkoordinasi dengan Poltabes Banda Aceh untuk melacak isu yang meresahkan masyarakat itu,” kata General Manejer (GM) Kandatel NAD, Zarwilis Yunus, di Banda Aceh, Jumat.

Ia mengimbau masyarakat tidak terpengaruh dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat HP terkait dengan pesan untuk tidak menghidupkan HP.

Seorang warga Kota Banda Aceh, Citra Dewi, menerima pesan dari temannya melalui HP yang isinya tentang larangan menghidupkan HP pada pukul 10.00 WIB dengan alasan adanya penyebaran “infra merah”.

Zarwilis, menegaskan semua informasi yang disebarkan melalui telepon seluler itu tidak benar dan pihaknya menilai sengaja ditebarkan untuk tujuan meresahkan masyarakat.

“Sekali lagi tidak benar, apalagi kalau ada pihak-pihak yang menyebutkan bahwa itu pesan dari operasi Telkomsel. Kami mengimbau masyarakat, khususnya pelanggan untuk tidak terpengaruh dan terpancing dengan isu tersebut,” tambah GM Kandatel NAD.

Isu yang tidak jelas sumbernya itu menyebutkan bahwa akan sangat berbahaya manakala salah satu dari dua nomor (0866 - 0666) muncul warna merah karena dapat berakibat fatal bagi penerima panggilan misterius itu.

“Namanya saja isu, kok mesti dipercaya. Saya pikir mari kita bekerja seperti biasa. Orang yang suka mempercayai kepada isu, apalagi sampai ketakutan setelah mendengarnya maka sebenarnya perlu diberi pencerahan dengan siraman rohani atau ke psikiater,” kata Arief Rahman, warga Banda Aceh.

Sementara itu, seorang pemuka Islam di Kota Banda Aceh, Tgk Iskandar, mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh dengan isu-isu yang dapat menyebabkan umat bisa syirik.

“Tidak benar jika orang mati karena telepon. Kematian itu bisa terjadi kepada siapapun dan kapanpun, manusia tidak mengetahui kapan ajalnya tiba (mati),” katanya.

Jadi, masyarakat khususnya umat Islam harus berpegang teguh kepada keyakinan bahwa kematian itu bukan urusan manusia, tambah dia.

(Antara)

Bolos Sekolah Bolos Kerja

Karanganyar (Espos)--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui Tim Lima Penegakan Disiplin melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di Kecamatan Jumantono dan Karanganyar, Sabtu (10/5). Namun, dalam Sidak tersebut, tidak ditemukan pegawai Pemkab yang membolos kerja.
Tim yang dipimpin Asisten II Setda Karanganyar, Sukismiyadi itu melakukan Sidak terhadap kedisiplinan pegawai Pemkab, di Kantor Kecamatan Jumantono, SMPN 1 Jumantono, Kelurahan Jantiharjo dan Kelurahan Tegalgede. Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi (KIK) Karanganyar, Iskandar melalui Kasi Kehumasan Bambang Sugito, menjelaskan tidak ditemukan pegawai yang bolos kerja.
Pegawai yang tidak masuk, semuanya memberikan keterangan. Di Kantor Kecamatan Jumantono, ada dua pegawai yang izin tidak masuk dan dua pegawai yang dinas luar. Kemudian di SMPN 1 Jumantono, enam pegawai diketahui dinas luar dan seorang lagi izin tidak masuk.
Dalam kesempatan itu, lanjutnya, ketua tim juga memberikan pengarahan dan pembinaan kepada pegawai untuk menerapkan kedisiplinan sebagai aparatur pemerintah. Di samping itu, ditegaskan pula agar para pegawai di lingkungan Pemkab Karanganyar menjaga netralitas, terutama dalam Pemilihan Gubernur Jateng dan Pemilihan Bupati Karanganyar.

Anu....hi..hi...hi..hi..ih..ih

Sempet juga terlihat olehku beberapa waktu yang lalu, dari jalanan Slamet Riyadi. Tampak di kawasan pusat belanja megah di Solo beberapa orang PNS dengan seragamnya digiring oleh seorang petugas. Entah ada kejadian apa, tapi sepertinya para PNS itu ketangkep basah bolos kerja, terus jalan-jalan di grand mall. Wadhuh...wadhuh....

Juga beberapa waktu lalu, di sebuah taman kota di Karanganyar, kota tempatku tinggal, ada orang main kejar-kejaran. Bukan anak-anak tapinya. Yang dikejar ngumpet, terus yang ngejar celingak-celinguk nyari calon korbannya. Hi....hi...hi....

Terus aku juga inget waktu masa-masa di SMA dulu (sekarang SMA udah nggak ada lagi, diganti SMU, bedanya apa ya...).

Pak guru harus bawa uang saku ekstra untuk main petak umpet dengan kami. Ngaku aja, aku ini paling males ikut upacara, hi..hi..hi... waktunya yang lain upacara paling kami nongkrong di warung di depan kampus UMS (dulu UMS punya kampus di Karanganyar).

Ya...kebiasaan bolos.

Kalau namanya anak-anak mah wajar-wajar aja. Masa sekolah adalah masa yang paling mengasyikan kalau acara bolos jadi kebiasaan. Nggak ngajarin lho ya, jadi jangan meniru adegan ini tanpa disertai konsultan atau tim ahli. Paling-paling caper, cari permen. Nggak model kriminil gitu, apalagi yang mesum-mesum kayak sebagian anak sekolah di negeri ini. Jaman dulu nggak model handphone. Motor aja cuman Suzuki RC100 Spirit yang biru punyaku. He...he... jadi kalo mbolos ya paling ke warung mbok siapa itu lupa namanya....

Lha, kalau kebiasaan ini kebawa sampai tua kan berabe tuh... Udah jadi PNS juga masih suka bolos. Nggak malu sama anak-anak apa. Gimana coba kalo kepoto ama paparaci (baca: paparazzi), ato ke-shoot ama stasiun tv, terus anak apa istri, apa ortu apalagi mertua kita ngeliat. Muka ditaruh dimana ya...

Eh...jangan-jangan makhluk yang namanya “malu” sudah hengkang dari negeri Indonesia kali ya. Ya nech... BBM naik lagi sech.....

Selamat Anda Pemenang Hadiah ke-1 Sebuah Mobil Honda Jazz

Pas lagi liat berita tipu-tipu, dapet lagi ni atu....

Di salah satu blog aku temuin postingan macem gini:

Saya ingin menyampaikan pengalaman yang baru saya alami pagi ini, Jum’at 10 November 2006. Pagi tadi, adik saya mandi dengan sabun Merk Lifeboy. Saat mandi ia menemukan di dalam sabun tersebut sepotong kertas yang dibungkus plastik.

Kertas tersebut bertuliskan, “Selamat Anda pemenang hadiah ke I sebuah Mobil Honda Jazz” Untuk konfirmasi silakan hubungi hotline PT.Unilever 68553411 atau hubungi Bp.Beny Wijaya Promotion Manager Unilever 085885842552. No undiannya adalah 073990. Undian ini berlaku hingga september 2006.

Setelah membaca kertas tersebut, selesai mandi adik saya langsung menghubungi Hotline yang disebutkan dan benar saja ketika ditanyakan perihal undian tersebut si penerima telp langsung mengatakan kalau adik saya adalah pemenang Honda Jazz namun untuk detailnya disuruh menghubungi Bp.Beny Wijaya.

Saat menghubungi Bp Beny Wijaya dia diberitahu kalau masa berlaku undian ini sudah habis sehingga mobil Honda Jazz yang sedianya sebagai hadiah saat ini sudah diserahkan ke balai Lelang Balindo yang ada di Cibitung Bekasi dengan alamat Jl.Mohamad Luthfi Kav.52 No.28 Cibitung Bekasi untuk dilelang hari ini.

Namun, karena lelangnya baru akan berlangsung pk 11.00 wib –saat itu kira kira pk 10.00 wib– maka Bp Beny Wijaya mengatakan kepada adik saya bahwa masih ada kesempatan untuk mendapatkan hadiah tersebut yaitu dengan membatalkan lelang.

Untuk itu, adik saya disuruh menghubungi balai lelang tersebut untuk berbicara dengan Bp.Ricky Fandi di no telp 081584290098. saat dihubungi Bp. Ricky Fandi membenarkan bahwa lelang masih bisa dibatalkan namun adik saya harus membayar biaya pembatalan lelang yaitu sebesar Rp 3.500.000 ke rekening Bp. Eko Sarwono 0097812986 di Bank BNI sebelum pk 11.00 wib.

Dia juga memerintahkan, setelah ditransfer slipnya agar langsung di Fax ke : 021 8604846. Setelah fax diterima baru pembatalan dapat dilaksanakan.

Merasa yakin akan undian ini adik saya menelpon saya dikantor dan minta saya langsung transfer uang tersebut sebelum pk 11.00 wib. Karena saya merasa kurang yakin maka saya tanya 108 no hotline dari PT Unilever yaitu 5262112 (beda dengan hotline pada Undian). Saat saya hubungi, benar no dari 108 ini adalah PT. Unilever. Oleh operator saya disuruh langsung menghungi telp Suara Konsumen Unilever di 5299 5299.

Saat konfirmasi kepada operator penerima telp tentang undian tadi, operator langsung menjawab bahwa itu adalah penipuan. Menurutnya, penipuan semacam ini sedang marak di Sumatera dan Jawa.

Saat saya tanya bagaimana mungkin kertas pemenang undian itu ada didalam sabun, ia menjelaskan para penipu ini membeli sabun lifebuoy dari supermarket - supermarkat kemudian dengan cara mereka sendiri memasukkan kertas bertuliskan pemenang undian tersebut kedalam Sabun Mandi (bukan dalam kemasan) setelah itu mereka kembalikan lagi ke suprmarket tersebut.

Saat konsumen membeli bisa saja mereka mengambil sabun yang sudah direkayasa tersebut. selanjutnya seperti yang adik saya alami. Semoga cerita ini dapat membantu konsumen lainnya agar hati-hati dengan modus penipuan ini.

Haryono (harry_9830@yahoo.com)
Jl.Jembatan Batu No.48 Jakarta Barat

He...eh...

Emang sih berita lama. Tapi yang kayak ginian ini nggak ada basinya.

Indonesia lagi....

Kayaknya Indonesia ini emang negara kaya. Kaya apa saja, sampai para penipu pun menjadi koleksinya.

Tapi kok ya mereka ni tetep merajaratu ya (gantinya merajalela). Apa negara ini nggak ada peraturan yang melindungi para penipu sech....kebalik ya.... nggak tuh. Para penipu dilindungi supaya nggak kelayapan nyari mangsa, gitu..

Kalo ngeliat kasus diatas, bagaimana pihak sabunnya ya.... pa diem aja gitu....pa gimana gitu ya.

Tapi pastinya namanya kan tercoreng. Konsumen pastinya kecewa kan? Terus pasti muncul dugaan yang keliru soal itu. Kayaknya soapmakernya bakalan nggak terima nih. (nggak mprovokasi lho ya...)

Dan juga kalo diperhatiin, nomer-nomer hp yang biasa dipake oleh para penipu itu kan nomer prabayar. Jelas keliatan bo’ongnya kan. Masa kantor pake nomer prabayar. Perusahaan besar nomernya ganti-ganti gara-gara kehabisan pulsa. Kan lucu...

Lha, kalo nomer prabayar kan sudah ada prosedur registrasi. Jadi bisa aja pemerintah melacak itu nomer, terus ambil tindakan semestinya. Ya kan?

Ah entahlah.... Indonesiaku....

CONGRATULATIONS!!! YOU HAVE WON $1,000,000.00

CONGRATULATIONS!!! YOU HAVE WON $1,000,000.00

...

Australian Lottery Programme

Australian Lottery Programme

...

Ref: 4758961725
Batch: ALLINC 70564943902/188
Winning no: FGNGB2701/LPRC

CONGRATULATIONS!!!
Dear winner,

We are delighted to inform you of your prize which was released on the 8th of April 2008, from the Australian International Lottery programme, which is fully based on an electronic selection of winners using their e-mail addresses from some sites. Your email address was attached to ticket number; 47001725 07056490102 and serial number 7741134002. This batch draws the lucky numbers as follows 5-13-33-37-42 and bonus number17,which consequently won the lottery in the second category.

You hereby have been approved a lump sum of US$1,000,000,00 (ONE MILLION DOLLARS) in cash credit file ref: ILP/HW 47509/09 from the total cash prize shared amongst eight lucky winners in this category. All participants were selected through a computer balloting system drawn from Nine hundred thousand E-mail addresses from Canada,Australia,United States, Asia, Europe, Middle East, Africa part of our international promotion program which is conducted annually. This Lottery was promoted and sponsored by a conglomerate of some multinational companies as part of their social responsibility to the citizens in the communities where they have an operational base.

Furthermore, your details(e-mail address) falls within our European representative Office in Amsterdam, Holland as indicated in your coupon and your prize of US$1,000,000,00 will be released to you from this regional branch office in NIGERIA. We hope that with part of your prize, you will participate in our end of year high stakes for US$1.3 Billion international draw.To file for your claim, please contact our claims department through the claims agent:

Name: Mr.Howard Greg
Tell: +234803-7837118
E-mail: info_lottoagent@yahoo.com
OR
verificationdept_greg@hotmail.com

Please quote your reference, batch and winning number which can be found on the top left corner of this notification as well as your full name, address and telephone number to help locate your file easily.For security reasons, we advice all winners to keep this information confidential from the public until your claim is processed and your prize released to you.This is part of our security protocol to avoid double claiming and unwarranted taking advantage of this programme by non-participants or unofficial personnel.

Note: all winnings MUST be claimed before the end of May 2008; otherwise all funds will be returned as Unclaimed and eventually donated to charity organizations.

ANYBODY UNDER THE AGE OF 18
IS AUTOMATICALLY DISQUALIFIED.

YOURS SINCERELY,
Mr.James Ross
Australian Lottery International (co-ordinator)

Itu tuh....email yang aku terima tanggal 8 April 2008 lalu.

Heboh kan hadiahnya, 1 juta dolar amerika man..... kalo di kurs ke rupiah jadi nggak muat tuh kalkulatorku.

Gimana nggak keringetan baca email macem begini. Orang beli deterjen dapet hadiah piring aja udah seneng. Belum lagi pas beli susu dapet hadiah mangkuk. Beli mie instan dapet hadiah bumbu. Beli mie goreng di tempat mbok Marto Man, dapet hadiah lombok 3 biji per bungkusnya. Beli wafer dapet hadiah bungkusnya. Gitu itu udah senengnya nggak ketulungan.

Eh ada lagi neh...

Dear ,

Due to the seriousness of my sickness i and my children wish to enquire the possibilities of going into long term business relationship with you in respect of our investment in any profitable and lucrative business in your country through you so that i can come over to receive specialist treament to my sickness.

Please respond to us on receipt of this our brief message to you so that we can further give you details in this respect as we do not wish to further expose the details of this our investment plan electronically due to the bad mind of people of the world.

Our number 00221 76 663 7269.

Mrs.Benita Rachidi and Family.

Our email: mrs_benita_rachidi@yahoo.com

Hi....hi...hi....

Atau yang agak keren dikit nih, soalnya pake bahasa Indonesia tercinta,

Assalamualaikum,

Saya mendapatkan alamat email Anda melalui proses searching di internet.

Saya berdoa dengan nama Alloh, Anda adalah orang yang tepat untuk membantu saya.

Saya ingin memindahkan uang untuk keperluan investasi ke negara Anda sehingga saya memerlukan seseorang seperti Anda yang tinggal di negara tersebut untuk membantu saya.

Mohon dicatat, dana tersebut sudah ditangani oleh sebuah perusahan sekuritas yang memiliki kantor cabang di setiap benua sehingga aman. Semoga Anda bersedia membantu saya.

Anda diharapkan membantu saya menarik uang saya dari perusahaan Sekuritas karena saya tidak bisa bepergian keluar dari Irak saat ini karena beberapa kondisi yang akan saya jelaskan kemudian bila Anda bersedia bekerja sama dengan saya (saat ini saya harus menggunakan kursi roda).

Kejatuhan Saddam Husein telah membawa kerusakan bagi negara kami dan semua hal menjadi sulit, semua peluang tertutup. Pemerintahan yang baru berusaha membuat kami gagal dalam berbisnis.

Bila Anda bersedia menerima tawaran ini, mohon kirimkan data-data berupa nama, umur, pekerjaan, alamat dan nomor telepon atau fax. Yang saya harapkan dari Anda adalah sebagai berikut:

  1. Anda harus pergi ke Perusahaan Sekuritas untuk menarik uang saya dalam bentuk cash dan membuka rekening bank di negara Anda atas nama saya dengan surat kuasa yang nanti akan saya berikan.
  2. Untuk usaha tersebut, Anda berhak mendapatkan 30% dari seluruh total dana yang berhasil Anda tarik.
  3. Segera setelah Anda mengkonfirmasikan tawaran ini melalui email, saya akan mengirimkan nomor PIN dan informasi mengenai Perusahaan Sekuritas yang saya gunakan.
  4. Mohon dicatat bahwa proyek ini 100% bebas risiko tetapi Anda sifatnya sangat rahasia dan pribadi dengan meminta jaminan bahwa Anda tidak akan mengecewakan saya.

Saya menunggu jawaban Anda segera,

Wassalam,

Abdullah Gh Al-qassab

Itu yang lewat email. Belum yang lewat sms atau selebaran fotokopian yang pake berantai gitu....

Kalau yang lewat sms mungkin lebih banyak. Dan juga lebih komplit. Ada yang nawarin mobil, rumah, hp, atau uang tunai. Kalau mau ngumpulin aku ini udah punya 8 mobil, motor nggak ingat berapa jumlahnya, hp juga, apalagi uang tunai. Milyader tenan aku....

O iya... ada lagi. Kemarin sempet rame-rame soal ginseng, trus ada lagi arisan berantai...waduh banyak banget kalo mau ditulis satu-satu.

Walah....walah.... subhanallah....masya Allah....astaghfirullah.....alhamdulillah...laa haula wa laa quwwata illaa billah....

Lagi-lagi Indonesia....

Negara kita ni subur banget ya. Tongkat kayu menjadi tanaman. Dan ternyata dari waktu ke waktu kesuburan itu makin meningkat saja. Subur perkara korupsi, subur perkara kolusi, subur perkara kriminal, subur perkara pembunuhan dan mutilasinya, subur perkara perampokan, pencurian, kekerasan, dowone rek...

Belum lagi yang bencana alam, macem setunami (baca:tsunami), gempa, tanah longsor, banjir, kekeringan, gagal panen, gunung mbledhos, lumpur panas, lahar dingin, akeh tenan....

Sampai di media elektronik itu ada acara berita khusus kriminalitas. Ada yang khusus memberitakan perkara selingkuh, kawin cerai, gosip, de el el....

Kayaknya Indonesia ini jadi gudang ketidakberesan yach.......

Kok ngelantur, omongnya ngalor ngidul......isinya nggak sesuai ama judul......

Prihatin...prihatin...... CONGRATULATIONS!!! YOU HAVE WON $1,000,000.00